Selasa, 10 April 2012

regulator televici


Jika Anda belum memahami blok-blok dalam rangkaian smps, sebaiknya baca dulu bagian 1 artikel SMPS ini.
SMPS yang akan diulas di sini mempunyai cara kerja yang sedikit ‘nyeleneh’, lihat saja ouputnya, B+ output diambil langsung dari kaki transformator alias tidak lazim bagi rangkaian power supply pada umumnya. SMPS jenis ini dapat dijumpai di produk TV Panasonic Gold Series. Dengan cara kerja yang sedikit ‘nyeleneh’ tersebut menjadikan SMPS model ini menjadi ‘favorite things’ bagi beberapa bengkel teman Penulis.

Sebelum mengulas cara kerja rangkaian SMPS jenis ini, sebaiknya ditinjau dahulu dua fungsi dasar transistor yaitu sebagai penguat arus dan penguat tegangan. Pada skema-skema smps artikel sebelumnya, transistor digunakan sebagai penguat tegangan (switcher, karena dibias hingga jenuh/switch). Sedangkan pada jenis ini, transistor digunakan sebagai penguat arus.
Pada transistor NPN, transistor berfungsi sebagai penguat arus jika output dari sistem penguatan menggunakan kaki emitor dan kaki kolektor langsung dihubungkan ke tegangan positif (hingga lazim disebut VCC) sebagai masukannya. Jika transistor dalam posisi ini mendapatkan bias (tegangan basis) positif, transistor akan meng-‘emitorkan’ (mengemisikan) tegangan dari kolektor menuju emitor dengan besar tegangan sama dengan tegangan basisnya (lihat rangkaian power supply yang pakai trafo biasa dengan transistor sebagai penguatnya). Karena tegangan yang diemisikan bersumber dari kolektor (yang notabene mempunyai arus lebih besar dari tegangan basis), maka tegangan output pada kaki emitor juga mempunyai arus yang lebih besar pula.
Kembali ke skema di atas, prinsip dasar kerja rangkaiannya adalah penggunaan transistor yang difungsikan sebagai penguat arus, kemudian tegangan keluaran transistor tersebut (yang arusnya telah dikuatkan) nantinya digunakan untuk ‘menggerakkan’ transformator sekaligus sebagai tegangan output dari SMPS. Karena yang ‘diubek’ adalah arusnya, bisa dikatakan smps jenis ini mempunyai output tegangan DC yang terputus-putus, sedangkan cara kerjanya sebagai berikut (singkat saja):
  1. Seperti pada umumnya rangkaian SMPS, tegangan DC 308V dihasilkan dari penyearahan tegangan masukan AC melalui line filter kemudian masuk ke main rectifier dan elko perata (C1 150uF/400V).
  2. Dengan adanya tegangan B+308V, resistor-resistor start-up R1 dan R2 (470K) memberikan tegangan/bias basis pada transistor utama Q1 (2SC4804/2SC5249), karena transistor mendapatkan tegangan basis, maka transistor akan mengeluarkan tegangan pada emitornya yang langsung ‘keluar’ ke output melalui lilitan primer transformator dengan tegangan yang menanjak (semakin membesar).
  3. Dalam waktu beberapa mikrodetik (uS), tegangan yang menanjak tersebut mencapai ambang SCR dan segera memicu SCR D8 (FD312) untuk menghubung singkatkan tegangan tersebut secara cepat (ingat, kaki SCR sebelumnya belum ada tegangan = terdapat beda potensial yang cukup untuk memicu).
  4. Karena tegangan output ‘dikonsletkan’ sesaat oleh D8 (SCR FD312), maka secara otomatis terbentuk magnet pada inti transformator (T1, C1C6A) yang segera terdemagnetisasi karena transistor kehilangan bias (bias dihilangkan oleh transistor Q3 (2SC3940A), proses tersebut berulang-ulang hingga akhirnya smps berosilasi dan mengeluarkan tegangan pada masing-masing lilitan sekunder trafo. R11 (100/2W) dan C11 (100n/100V) berfungsi sebagai penentu frekuensi kerja smps dan menjaga smps tetap berosilasi.
  5. Untuk menghindari ‘penanjakan’ yang berlebih, D5 (AU01Z), C5 (470p/500V), R12 (22), ZD1 (MA4062-6V2), C10 (47uF/50V), Q2 (2SA1512) dan R3 (220) membentuk rangkaian limiter/pembatas yang mempertahankan tegangan output pada nilai yang ditentukan. Dalam standby maupun kondisi ON, rangkaian ini tetap difungsikan. Karena rangkaian limiter sudah bekerja, maka tegangan output menjadi tidak cukup untuk memicu D8 FD312 (ingat, trafo hanya bisa dimagnet jika diberi tegangan, bukan dilewati tegangan).
  6. Untuk menjaga siklus osilasi tetap berjalan yang notabene harus dengan beban, R16 (470/2W) merupakan komponen yang bertanggung jawab untuk memberi beban smps ini ketika standby. Ketika ON, beban dipindah ke transistor horisontal dan flyback oleh relay.
  7. Ketika mode ON, beban dipindah ke beban sesungguhnya oleh relay dengan melewati dioda penyearah, dioda tersebut menyearahkan selisih tegangan yang ada di sistem sasis input/outputnya. Karena setiap dalam satu siklus osilasi, smps dikonsletkan oleh beban sehingga muncul tegangan selisih pada groundnya. Selain itu, dioda ini juga sebagai isolator agar rangkaian smps (primer) selalu dalam potensial positif (ingat, yang diubek-ubek tegangan DC lho…!!!).
  8. Rangkaian error amp, terdiri dari IC1, SE090-NLF4, Q3 (2SC3940A), optocoupler (PS2051-1) dan komponen pasif pendukung lainnya (jelasnya baca skema). Rangkaian error amp ini menjaga tegangan output tetap stabil pada 90V. Tegangan error yang keluar dari SE090 memberikan bias pada optocoupler OP1 (PS2501-1) sehingga opto mengalirkan tegangan dari kolektor ke emitor yang akhirnya menuju ke basis Q3 (2SC3940A), sehingga Q3 dapat mengontrol/menahan tegangan basis pada Q1 (2SC4804), semakin tinggi tegangan yang masuk ke basis Q3, semakin rendah outputnya. Sedangkan tegangan kolektor optocopler diambil dari tegangan dari B1-2 (lilitan sekunder) dan tegangan yang melalui D4.
  9. Yang menarik adalah mengapa harus butuh boost-up??? Ketika tegangan boost-up tidak ada (TFB tidak bekerja misalnya) dan smps diberi beban mengakibatkan tegangan output turun dan rangkaian error amp tidak lagi mampu mempertahankan tegangan outputnya. Karena smps masih mendapatkan tegangan start-up (oleh resistor-resistor start up) secara otomatis osilasi tetap berlanjut (dengan super beban tentunya), alhasil, ada suara kriiiiiiik pada trafonya. Jika diperbesar, prosesnya adalah, start – out ada – out drop (karena beban) – start lagi – out ada – out drop …… dan seterusnya. Begitu juga tegangan dari sekunder B1-2, juga mengalami hal yang sama. Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah lilitan L1 (sekitar 3 s/d 4 lilit) yang digulungkan di trafo flyback dengan maksud untuk mem-boost rangkaian smps segera setelah TFB bekerja. Karena adanya tegangan boost (yang dari TFB), tegangan dari resistor-resistor startup secara otomatis tergantikan dari tegangan boost tersebut.
Komponen Vital

Dalam sistem smps, semua komponen adalah vital. Tetapi persyaratan utama smps adalah stabilnya tegangan output juga cukupnya arus. Jika mengamati skema, sistem kerja di atas dan persyaratan tersebut, dapat ditemui beberapa komponen yang kritis/vital yaitu :
  1. C10 (47/50V), elko ini berfungsi sebagai perata/penampung tegangan bias Q2 (2SA1512) yang menurut skema transistor tersebut digunakan untuk membatasi tegangan outputnya (bersama-sama dengan ZD1 MA4062-6V2), jika ada gangguan pada elko ini, pembatasan tegangan output akan ‘bergeser’. Tegangan pada elko ini sebelumnya melalui R12 (22) sehingga R tersebut juga sangat penting. Jika elko kering, tegangan output akan naik.
  2. Q1 (2SC4804), transistor final ini harus dipilih dari transistor yang mempunyai karakteristik yang cocok untuk penggunaan penguatan arus. Tidak semua transistor smps cocok untuk tugas ini (pemilihan tipe alternatif harus teliti).
  3. Optocoupler (OP1 PS2501-1), sebelumnya mungkin sudah bertanya-tanya, optocouplernya kok tidak umum seperti pada TV-TV lainnya, PS2501-1, jika dilihat dari skemanya optocoupler ini memberi tegangan bias kepada Q3 (2SC3940A) dengan besar tegangan sesuai dengan inputnya (output dari SE090N). Ketika standby, tegangan bias ini harus tidak ada. Jadi, optocoupler yang ‘bocor’ sedikit saja, dapat mengganggu kerja dari SMPS ini.

Tips Perbaikan dan Troubleshooting

  1. Mencoba/mengetes smps sebaiknya menggunakan cara mengetes smps seperti yang diulas dalam artikel Cara Aman Mengetes Power Supply (SMPS).
  2. Lepaskan trafo, kemudian tes semua komponen-komponen yang terdapat pada bagian primer termasuk dioda-dioda penyearah pada sekunder trafo. Cek juga apakah ada beban yang konslet. Jika ditemukan beban yang konslet, perbaiki dulu yang konslet tersebut baru lanjutkan kembali ke bagian smps.
  3. Ganti komponen-komponen yang rusak dengan nilai yang sama, untuk transistor, dapat menggunakan tipe lain dengan catatan sama karakteristiknya. Untuk penggantian elko (2 biji), sangat dianjurkan walaupun berkesan masih baik.
  4. Jika dirasa beres semua, kembalikan trafo, lepas beban B+ yang menuju ke TFB, kemudian ‘paksa’ standby smps dengan melepas salah satu kaki koil relay. Kemudian hidupkan power supply.
  5. Jika tidak ada masalah, akan terbaca tegangan 20V dan 40V pada sekunder dan sekitar 20V pada B+90V.
  6. Jika smps masih mengerik, mungkin ada beban yang konslet, cek IC AN78M05.
  7. Jika smps berbunyi ciit panjang diiringi dengan output rendah (kurang dari normalnya, cek optocoupler.
  8. Kembalikan paksaan standby, kemudian hidupkan power supply, secara normal, tegangan output akan sedikit menurun, 20V terbaca sekitar 15 s/d 18V, 40V terbaca sekitar 35V. tegangan ini dapat dipengaruhi oleh gambar/beban TFB karena pengaruh boost-up.
Alternatif Komponen Pengganti
  1. Optocoupler : PC817 (sharp) bisa dipakai, jangan menggunakan optocoupler yang jika dites antara kaki kolektor dengan kaki emitornya dengan skala 1/10K, ada resistansi (jarum bergerak), misalnya P721 atau P621.
  2. Elko 47/50V, gunakan yang mempunyai suhu kerja tinggi (lihat pada kemasan) dan kualitas yang baik, jika tidak ditemukan, bungkus elko dengan shrink isolator atau tinggikan kaki-kakinya (penempatannya).
  3. Transistor utama, dapat menggunakan 2SC5249 atau tipe laen yang fungsi dan karakteristik sama.
Tegangan 35/40V
Pada sasis gold series, tegangan sekunder 40V ini hanya dipakai untuk tegangan VT tuner, zener pada jalur tegangan ini sering short (karena naiknya tegangan yang disebabkan keringnya elko 47/50V), sedangkan untuk mencari penggantinya, di beberapa daerah mungkin tidak ditemukan. Sebagai alternatif lain, zener tidak perlu dipasang (dilepas), tetapi perlu ditambahkan zener 33V pada jalur 33V setelah R820/2W.
-terima kasih dan semoga bermanfaat-
BLOK 11 POWER SUPPLY

CARA MENGETAHUI BESAR TEGANGAN B+ PADA TV (MENDEKATI)





PENUTUP

Alhamdulillah, dengan selesainya artikel yang mengulas blok ini maka memahami blok-blok dasar pada TV diharapkan akan lebih mudah sekaligus mempermudah dalam proses perbaikan tentunya.
Semoga dalam tulisan kali ini bermanfaat bagi para pembaca dan bagi Penulis dan diberi kekuatan untuk melanjutkan dengan artikel yang lain dimasa mendatang. Diucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para pembaca yang telah dengan sabar menunggu kelanjutan dari topik Memahami Blok-blok Dasar TV. Diucapkan terima kasih juga kepada para pembaca yang merasa terbantu dan telah berkenan untuk berbagi sebagian rizkinya kepada Penulis.
Tidak lupa Penulis secara pribadi memohon ma’af karena artikel kelanjutan topik ini terlalu lama dipublikasikan karena keterbatasan waktu dan kesempatan yang Penulis miliki. Semoga bermanfaat dan Penulis membuat artikel bukan bertujuan untuk diklaim oleh pihak lain sebagai hasil karyanya sendiri.

PENULIS 2010 – 2011
BLOK 11 POWER SUPPLY

OPTOCOUPLER
Photocoupler atau sering disebut optocoupler (photo/optic=cahaya, coupler penghubung) pada dasarnya terdiri dari 2 komponen dalam satu kemasan, yaitu LED dan phototransistor (transistor peka cahaya). Cahaya dari LED tersebut ‘dijatuhkan’ ke bidang penerimaan transistor pada jarak yang cukup sehingga transistor dapat bekerja berdasarkan intensitas cahaya yang dipancarkan dari LED. Secara sederhananya, bila kaki-kaki transistor adalah Basis, Colector dan Emitor maka kaki-kaki optocoupler adalah 2 kaki LED (basis), C dan E. Karena yang digunakan untuk ‘menggerakkan’ transistor adalah cahaya, maka didapatkan isolasi yang baik sekali. Pada sistem SMPS, optocoupler digunakan sebagai penghubung antara sub blok error amp (sekunder) dengan blok primer SMPS (nyetrum).

ERROR VOLTAGE DAN ERROR AMPLIFIER
Persyaratan utama sebuah power supply adalah kestabilan tegangan keluaran pada beban normalnya. Error amplifier dipakai untuk menyensor tegangan output SMPS (sekunder) untuk menghasilkan tegangan kesalahan (error voltage), besar tegangan yang salah ini harus ‘diberitahukan’ kepada blok primer melalui optocoupler (atau ada juga yang memakai trafo sinkronisasi SMPS). Segera setelah mendapatkan tegangan error, blok primer SMPS segera ‘mengembalikan’ tegangan outputnya ke tegangan yang telah ‘diprogramkam’ oleh error amplifier.
Komponen yang berfungsi sebagai error amp misalnya SE110 (sanken error 110V), akan ‘memprogram’ SMPS supaya mengeluarkan tegangan pada 110V. Bila beban meningkat, output SMPS akan turun sehingga SE110 akan mengeluarkan tegangan error, segera setelah mendapatkan tegangan error, blok primer segera menaikkan tegangan outputnya supaya tetap pada 110V, proses ini berlangsung dalam waktu yang cepat sekali.
Komponen-komponen lain yang dapat digunakan sebagai error amp SMPS adalah S1854 (toshiba), TL431, KA431 atau IC-IC op-amp. secara teknis dengan/tanpa tambahan beberapa komponen bantu, komponen-komponen tersebut dapat digantikan satu dengan yang lain. Khusus TL431, komponen ini merupakan komponen discrete jadi harus dilengkapi dengan komponen-komponen lainnya supaya dapat berfungsi sebagai error amp.
Seandainya tegangan error yang dikeluarkan oleh error amp disadap, kemudian diatur/dinonaktifkan tegangan errornya dengan komponen lain (misalnya transistor) yang dikontrol oleh IC program, maka secara praktis dapat mengatur tegangan output dari SMPS tersebut (standby).
Meskipun error amplifier umumnya terdapat pada sisi sekunder dari sistem SMPS, error amplifier merupakan bagian dari sistem SMPS secara keseluruhan. Jadi ketika proses perbaikan, error amplifier tidak b
Switch Mode Power Supply (SMPS)
BAGIAN 2 CARA KERJA SMPS DENGAN TRANSISTOR

Jika Anda belum memahami blok-blok dalam rangkaian smps, sebaiknya baca dulu bagian 1 artikel SMPS ini.
Rangkaian smps yang diulas adalah rangkaian smps kepunyaan tv merk digitec/polytron jadul yang smps bentuk ini diproduksi beberapa pihak sebagai alternatif pengganti smps yang banyak ditemukan di pasaran (penulis sebut Robot Terminator). Sedangkan skema smps yang dimaksud sebagai berikut :


Cara kerja rangkaian :
  1. Tegangan AC220V yang masuk melalui Line Filter yang terdiri dari C1, R2 dan T1. kemudian disearahkan dan difilter oleh rangkaian Main Rectifier yang terdiri dari D1, D2, D3, D4, C2, C3, C4, C5 dan EC1. Setelah melalui rectifier ini, tegangan menjadi DC 308V. D1 s/d D4 banyak dijumpai dalam bentuk Bridge Diode (dioda kotak 4 kaki).
  2. Setelah tegangan EC1 cukup, R3 dan R4 berlaku sebagai rangkaian StartUP circuit yang memberikan tegangan startup/pemicu yang cukup untuk menswitch Q3 (main switcher). Ketika Q3 mendapatkan tegangan pemicu, Q3 akan menswitch/mengkonsletkan lilitan primer trafo. Menswitch tidak secara konstan (hanya sesaat) karena rangkaian snubber (R12, C9) akan segera me-demagnetisasi trafo.
  3. Karena trafo dengan segera ter-demagnetisasi, muncul tegangan induksi dari lilitan sekunder trafo (S1 dan S2). Tegangan dari S2 menswitch Q3 melalui D5, C8 dan R11. Pada waktu yang bersamaan, tegangan pada S1 disearahkan oleh D7 dan difilter oleh C6 (menghasilkan tegangan sebut saja VS).
  4. Karena Q3 kembali diswitch lagi, magnetisasi dan demagnetisasi berulang lagi dan seterusnya, disebut rangkaian berosilasi. Komponen-komponen yang berperan dalam osilasi adalah C8 dan R11. Osilasi yang terjadi mempunyai bentuk pulsa yang tidak terkendali (semakin menyempit ukuran pulsanya karena efek magnetisasi dan demagnetisasi = tegangan output semakin mengecil). Untunglah ada VS (tegangan dari S1 yang telah disearahkan dan difilter).
  5. Tegangan VS tersebut dipakai untuk membuat tegangan referensi dengan menggunakan ZD1 dan R8, dan dipakai untuk sensor utama tegangan output sekunder trafo.
  6. Tegangan VS dimasukkan dalam rangkaian Error Amp (R5, VR1, R6, R7, R8 dan Q1). Cara kerja Error Amp ini adalah dengan membandingkan VS dengan VREF (tegangan pada emitor Q1) menggunakan Q1. Jika VB lebih tinggi dari VE maka Q1 tidak akan menghantar, akibatnya Q2 tidak menghantar (dorongan/bias basis Q3 dikurangi/diputus), sehingga Q3 kembali ke posisi menyempitkan pulsa osilasinya. Akhirnya tegangan pada sekunder trafo akan turun. Sebaliknya, jika VB lebih rendah dari VE, Q1 akan menghantarkan tegangan dari emitor (VREF) menuju ke kolektor, sehingga Q2 menjadi terdorong dan ‘menahan’ bias Q3. Karena bias Q3 sedikit tertahan, pulsa akan melebar dan akhirnya tegangan sekunder akan naik.
  7. Untuk menghindari ‘penaikan otomatis’ secara berlebihan yang dilakukan oleh Error Amp, pada rangkaian tersebut dilengkapi dengan R9 dan D6 yang berfungsi sebagai Voltage Limiter (atau sering disebut Over Voltage Protection). Cara kerjanya adalah dengan cara membandingkan output dari error amp dengan pulsa negatif trafo.
  8. Ketika beban meningkat, magnet dalam trafo akan lebih cepat terserap oleh beban, sehingga output sekunder menjadi turun. Ketika memasuki tahap ini, rangkaian Error Ampnya akan segera menyesuaikan dan mempertahan output dari smps, begitu juga sebaliknya.
  9. Akhirnya, tegangan sekunder lainnya disearahkan oleh fast rectifier dan dipakai sebagai output dari sistem smps ini yang terisolasi dari jala-jala listrik.

Tips Perbaikan

Setelah mengetahui cara kerja rangkaian ini, metode perbaikannya secara umum dapat diterapkan pada smps-smps transistor jenis lainnya. Sedangkan tipsnya sebagai berikut :
  1. Mencoba/mengetes smps sebaiknya menggunakan cara mengetes smps seperti yang diulas dalam artikel Cara Aman Mengetes Power Supply (SMPS).
  2. Lepaskan trafo, kemudian tes semua komponen-komponen yang terdapat pada bagian primer termasuk dioda-dioda penyearah pada sekunder trafo. Cek juga apakah ada beban yang konslet. Jika ditemukan beban yang konslet, perbaiki dulu yang konslet tersebut baru lanjutkan kembali ke bagian smps.
  3. Ganti komponen-komponen yang rusak dengan nilai yang sama, untuk transistor, dapat menggunakan tipe lain dengan catatan sama karakteristiknya.
  4. Jika dirasa beres semua, kembalikan trafo kemudian silahkan dicoba smpsnya.

Troubleshooting

  1. Tidak bisa start : cek resistor startup, cek R10, cek tegangan B+308V, cek R8 dan C11, cek rangkaian snubber, cek line filter (pada beberapa jenis merk tv).
  2. Tegangan tidak bisa terkunci/tidak stabil : cek elko EC1, cek error amp (lebih-lebih pada VR-nya), cek D7 dan cek semua transistor.
  3. Transistor final panas berlebihan : cek transistor final, cek snubber, cek EC1, cek trafo.
  4. Efek pump out : cek hubungan ground pada sekunder trafo (non hot area) antara tegangan yang mensuplai audio amplifier dan ground lainnya, umumnya ada elko, cek elko tersebut. Efek pump out adalah efek yang ditimbulkan oleh getaran audio/penarikan daya oleh sistem audio, lebih terasa jika volume dinaikkan.

Beberapa kekurangan dari SMPS jenis ini
  1. Smps jenis ini kurang mendukung green mode atau power saving, yaitu penggunaan arus yang masih lumayan tinggi keadaan standby.
  2. Sistem proteksi yang kurang, tidak ada OCP (over current protection).
  3. Regulation speed yang sedikit lambat karena tegangan yang disensor bukan tegangan output yang dipakai langsung oleh beban.
BAGIAN 3 CARA KERJA SMPS DENGAN FINAL FET

Jika Anda belum memahami blok-blok dalam rangkaian smps, sebaiknya baca dulu bagian 1 artikel SMPS ini.
Banyak teman penulis yang mengeluhkan rangkaian smps jenis ini, mulai dari FET yang gak bisa dipasang ampe yang menghabiskan FET sampai 5 biji, gak hanya FETnya saja yang terbakar, tetapi mirip mercon rentengan ketika smps dicoba, thour-thuorr-thuorr.
Skema smps yang dimaksud adalah :

Cara kerja rangkaian sebagian besar sama seperti yang diulas pada artikel sebelumnya, perbedaannya pada rangkaian error amp yang dipakai. Disini, Penulis hanya mengulas blok-blok rangkaian di atas beserta fungsinya saja.
  1. Line filter dan Rectifier : terdiri dari R536, C532 dan M502. Kemudian disearahkan dan difilter oleh rangkaian Main Rectifier yang terdiri dari D519, C527, C528, C529, C530 dan C525 (220uF/400) untuk membuat tegangan B+ 308V.
  2. Start up circuit : setelah tegangan B+ 308V cukup, tegangan ini dihambat oleh R531 dan R532 kemudian oleh zener (D518 6V2) tegangan dibatasi pada 6V2 kemudian tegangan 6V2 ini digunakan sebagai tegangan StartUP melalui R528 10K (pada beberapa model 18K/22K). Tegangan tersebut sudah cukup untuk memicu/menswitch IC501 9NK70 (pada beberapa model menggunakan FS7UM) untuk memulai self oscilation.
  3. Snubber circuit : terdiri dari C524 (2n2/1n 2KV) dan R533 (2R2).
  4. Error Amp : terdiri dari 2 rangkaian error amp, masing-masing dipakai ketika standby dan ketika ON. Error Amp ketika standby menggunakan ZD517 (2V), R522 (680), T506 (C945) dan C521 (10n). Sedangkan Error Amp ketika ON adalah IC503 (TL431), R506 (100K), RT501 (22K), C511 (220p), R505 (2K4), R504 (470K), R503 (100K) dan C510 (2n7). Error Amp akan membandingkan tegangan output B+115V (setelah melalui R506 dan RT501) dengan tegangan referensi internal IC TL431.
  5. Rangkaian Over Current Protection (OCP) terdiri dari T507 (A1015), T508 (C1815), R525 (100), C523 (18n) dan ZD521 (13V). Sedangkan R526, R527 dipakai untuk adjustment kepekaan OCP sekaligus sebagai jalur tegangan negatif yang menuju ke IC501 (power final).
  6. Rangkaian penentu frekuensi/pulsa osilasi terdiri dari L507, R523 (1K2) dan C522 (3n3) yang menjaga osilasi tetap pada frekuensi kerja.
Lebih Jauh Tentang Error Amp ketika ON

  1. Tegangan sekunder 14V mensupply kaki anoda optocoupler melalui R542 (220), sedangkan kaki katoda optocoupler disupply oleh rangkaian Error Amp yang terdiri dari IC503 (TL431), R506 (100K), RT501 (22K), C511 (220p), R505 (2K4), R504 (470K), R503 (100K) dan C510 (2n7). Error Amp akan membandingkan tegangan output B+115V (setelah melalui R506 dan RT501) dengan tegangan referensi internal IC TL431 (2,5V=menurut datasheet) yang kemudian tegangan error tersebut diumpankan ke kaki katoda optocoupler.
  2. Tegangan selisih yang terdapat pada dioda/masukan optocoupler (PC817) menyebabkan optocoupler menghantarkan tegangan dari kolektor ke kaki emitornya (kaki-kaki opto PC817 secara urut adalah, 1:anoda, 2:katoda, 3:emitor, 4:kolektor). Tegangan yang dihantarkan oleh PC817 berasal dari lilitan sekunder pada sisi non isolated area. Tegangan tersebut berfungsi sebagai tegangan error dan tegangan driver yang selanjutnya digunakan untuk mengendalikan osilasi/kerja dari rangkaian primer.
Sistem Standby

  1. Dengan adanya tegangan 14V, secara otomatis rangkaian regulator (T503 C2236) juga mengeluarkan tegangan standby 5V melalui D522 1N4002. Tegangan standby ini merupakan tegangan utama yang digunakan oleh IC program dalam keadaan standby maupun bekerja (ON).
  2. Ketika TV dimatikan dengan remot (dibuat standby), muncul tegangan pada jalur standby yang menuju basis T505 (C2235). Transistor tersebut menjadi dalam keadaan switch (E dan C terhubung). Karena E dan C terhubung, maka anoda D514 juga secara langsung terhubung dengan ground (-), mengakibatkan tegangan error dari TL431 hilang/konslet ke ground oleh dioda tersebut (lihat arah panah dioda). Karena opto tidak lagi mendapat tegangan bias, maka rangkaian primer akan masuk dalam mode standby. Ketika mode standby, output sekunder dari trafo ‘sengaja’ dibuat turun drastis. B+115 terbaca sekitar 25V, 50V menjadi 8-10V dan 14V menjadi sekitar 2V. Lantas 5V untuk standby diambil dari mana?
  3. Selain menghubung-singkatkan tegangan error dari TL431, T505 juga memberikan bias negatif pada tr T504 (A1023) melalui R516 (2K2) hingga membuat tr T504 menjadi dalam keadaan switch. Ketika T504 switch, tr tersebut menghubungkan tegangan 50V (ketika standby terbaca sekitar 8 s/d 10V), yang akhirnya tegangan tersebut (yg 8volan) digunakan untuk mensupply tegangan T503 (regulator 5V standby). Sebaliknya, ketika di ON-kan lagi, tegangan T503 diambil dari 14V, dan tr T504 (A1023) kembali tidak dalam keadaan switch (tidak dipakai ketika ON).
Tips Perbaikan

  1. Mencoba/mengetes smps sebaiknya menggunakan cara mengetes smps seperti yang diulas dalam artikel Cara Aman Mengetes Power Supply (SMPS).
  2. Lepaskan trafo, kemudian tes semua komponen-komponen yang terdapat pada bagian primer termasuk dioda-dioda penyearah pada sekunder trafo. Cek juga apakah ada beban yang konslet. Jika ditemukan beban yang konslet, perbaiki dulu yang konslet tersebut baru lanjutkan kembali ke bagian smps.
  3. Ganti komponen-komponen yang rusak dengan nilai yang sama, untuk transistor, dapat menggunakan tipe lain dengan catatan sama karakteristiknya.
  4. Jika dirasa beres semua, kembalikan trafo, lepas beban B+ yang menuju ke TFB (melepas R515, 3R3), kemudian ‘paksa’ standby smps dengan menghubung singkatkan kaki E dan C T505 (C2235) dengan patri/disolder. Kemudian hidupkan power supply.
  5. Jika tidak ada masalah, maka akan terbaca tegangan pada output smps masing-masing, B+115 = sekitar 25V, 50V = 8 s/d 10V, 14Va = sekitar 2V. Jika tegangan tidak mau muncul (smps tidak bekerja ketika standby), cek R startup juga cek R 33ohm yang menuju kekaki G. Jika R tersebut masih bagus, coba ganti FETnya dengan yang baru (dengan harga baru tentunya).
  6. Jika tegangan 50V ketika standby kurang dari 8V (mengakibatkan tegangan 5V standby yang dikeluarkan oleh regulator 5V standby (T503) kurang dari 5V), cek/ganti elko C507 dengan nilai 47uF/63V atau 10uF/160V.
  7. Jika sudah tidak ada masalah, matikan power supply, lepas solderan hasil ‘paksaan’, kemudian hidupkan lagi. Cek tegangan masing-masing output. Jika ada remot, silahkan coba distandby pakai remot, dan dihidupkan lagi pakai remot. Jika smps sudah beres, smps akan bekerja sesuai dengan perintah dari remot (on dan off).
  8. Jika smps tidak mau dibuat standby, meskipun tegangan bias pada T505 (C2235) ada, TV berkesan menyala normal, tetapi R518 (330) yang mensupply basis tr T503 (regulator standby 5V) gosong terus dalam hitungan menit, cek D514 (1N4148 kemungkinan bocor).
  9. Untuk ‘memaksa’ ON smps, bisa dilakukan dengan melepas kaki basis T505 (C2235), cek tegangan pada kolektor atau emitor pada T503, jika kurang dari 5V, cek dioda 1N4002. Biasanya penulis ganti dengan dioda 2A.
Tidak Ada di Skema

Sedikit keluar arena pembahasan, TV dengan power supply tersebut memang gampang-gampang susah. Setelah smps normal (bisa di-ON-OFF-kan) dengan tegangan normal pula, kadang TV masih tidak mau menyala. Berikut beberapa aturan/kondisi yang harus dicukupi supaya TV yang dimaksud bisa start.
  1. Tegangan B+ 115V harus 115V pada 20” dan 21” dan 113V pada 14”.
  2. Tegangan IC program (5V standby) minimal 4,5V.
  3. Tegangan reset (pin3 IC KA7045, kaki3, dekat IC program) minimal 4,5V.
  4. VCCD untuk STV22xx (pin35) minimal 4,5V.
  5. Pastikan SDA dan SCL pada STV22xx ke IC program terhubung dan tidak ada gangguan.
  6. Pin proteksi IC program (pin16) harus lebih dari 3V (jika diurut menuju ke output vertikal), jika kurang TV akan protek.
  7. Pin BCL (pin46) tidak boleh kurang dari 1V. Jika kurang dari 1V, horisontal output dari STV22xx akan non aktif (tegangan hampir sama dengan 8V, alhasil transistor driver horisontal puanass).
  8. Tegangan VCC1 (pin45) pada STV22xx minimal 7,3V.
Pada sasis yang lain, misalnya HBEA-001A, tegangan 5V (on) dan 8V (on) tidak lagi menggunakan 7805 dan 7808, melainkan menggunakan transistor untuk regulasinya (2SD313). Menurut pengalaman penulis, gangguan gagal startup (meskipun smps bagus) sering disebabkan komponen-komponen dalam regulator 5 dan 8V tersebut ada yang gak beres (paling sering elko kering), reboisasi daerah tersebut terbukti manjur. Mulai dari elko-elko sampai dengan transistor regulatornya jangan lupa dioda zenernya (9V1).
-terima kasih, semoga bermanfaat-
Switch Mode Power Supply (SMPS)

Dinamakan Switch Mode Power Supply (SMPS) karena sistem kerjanya menggunakan metode switching (pensaklaran) yaitu menghidup matikan tegangan yang masuk ke dalam trafo dengan peralatan/komponen elektronik dengan frekuensi tertentu. Sedangkan nama AC-matic diambil dari salah satu kelebihan dari SMPS yaitu kemampuan power supply bekerja dengan rentang tegangan masukan yang lebar. Pada beberapa jenis smps, mampu bekerja pada tegangan masukan antara 90 s/d 265V dengan output yang sama dan stabil. Karena kelebihan tersebut, smps menjadi auto-voltage regulator atau wide range input regulated power supply (secara mudahnya disebut AC-matic).
BAGIAN 1 BLOK-BLOK SMPS


Transformator (trafo)

Pada sistem power supply konvensional yang menggunakan trafo, supaya tranformator bisa me-transform (memindah) daya dari primer ke sekunder, trafo harus diberi masukan yang berpulsa. Masukan trafo power supply jenis konvensional dihubungkan secara langsung dengan tegangan masukan yang berbentuk AC, karena hanya tegangan AC yang mempunyai denyut/frekuensi (polaritasnya berganti-ganti dengan periode tertentu). Kekurangan utama jenis konvensional adalah ukuran dari tranformator yang dipakai. Semakin rendah desain frekuensinya, semakin besar ukuran trafonya, walaupun dengan daya keluaran yang sama.

Pada desain trafo konvensional dengan input 220VAC/50Hz dan output 12VA, ukuran inti trafo sekitar 3 X 6 cm, jika seandainya dibuat trafo dengan input 220VAC/100Hz dengan output sama (12VA), mungkin ukuran inti dari trafonya menjadi setengah dari ukuran sebelumnya, atau, ukuran inti yang sama tetapi jumlah gulungan menjadi setengah dari sebelumnya. Kesimpulannya, frekuensi dari tegangan masukan menentukan ukuran dan desain dari trafo.

Pada sistem smps, pada umumnya bekerja pada frekuensi antara 30 s/d 40 KHz. Sehingga tidak heran jika trafo pada smps menjadi lebih ringkas. Karena frekuensi kerjanya yang tinggi tersebut, inti dari trafonya tidak lagi menggunakan plat besi tetapi sudah menggunakan ferit (besi oksida) yang notabene mempunyai kemampuan magnetisasi dan demagnetisasi lebih cepat daripada besi biasa.
Line Filter

Line filter befungsi sebagai filter tegangan masukan, tujuan utamanya untuk menghilangkan frekuensi-frekuensi liar dari line/jala-jala listrik (selain frekuensi tegangan AC masukan) yang dimungkinkan bisa mengganggu kerja dari smps. Line filter dibentuk dari induktor-induktor dan kapasitor-kapasitor yang dipasang secara seri terhadap tegangan masukan.
Rectifier

Blok penyearah berfungsi sebagai penyearah tegangan AC menjadi tegangan DC. Komponen-komponen penyearahan terdiri dari dioda-dioda dan elco. Dioda berfungsi sebagai penyearah dan elco befungsi sebagai filter untuk menghilangkan denyut ripple pada tegangan DC yang dihasilkan selain kapasitor-kapasitor yang dipasang paralel terhadap dioda. Jenis penyearahan pada umumnya menggunakan metode bridge rectifier, yang mempunyai kelebihan pada tingginya isolasi antara tegangan DC yang dihasilkan dengan tegangan AC masukan.

Tegangan masukan sekitar 220VAC setelah disearahkan dan melalui elko berubah menjadi sekitar 1,4 x 220 = 308VDC. Jika elko pada penyearah kering, tegangan 308VDC tersebut menjadi tidak tercapai sekaligus terdapat ripple. Akibat terburuknya adalah smps menjadi lebih panas (karena berusaha menstabilkan output dan terganggu bentuk pulsanya oleh DC ripple). Cara termudah mendeteksi ini adalah dengan mengukur tegangan 308V-nya atau munculnya suara mendecit/mengerik pada trafo utama.
Start Up

Di awal sudah disinggung bahwa smps menggunakan frekuensi kerja antara 30 s/d 40 KHz. Karena frekuensi tersebut tidak ditemukan pada tegangan DC, maka sistem smps harus membuat/menggenerasikan sendiri pulsa/denyut tersebut. Metode paling sering ditemukan adalah dengan metode self oscilating (osilasi sendiri). Pada jenis ini, rangkaian smps ibarat sebagai rangkaian osilator frekuensi daya tinggi. Tidak jarang juga ditemukan smps yang menggunakan IC untuk membuat pulsa tersebut, misalnya TDA8380, TEA2261, STR-group dll.

Dalam setiap sistem osilator, dibutuhkan tegangan awal/pemicu yang berfungsi sebagai pemicu awal rangkaian osilator untuk berosilasi. Tegangan pemicu ini muncul beberapa saat setelah smps mendapat tegangan masukan (AC in). Besar tegangan pemicu ini tergantung dari jenis rangkaian smps yang digunakan (contoh, pada STR-F665x osilator akan bekerja jika tegangan pemicu sudah mencapai 16V). Karena sifatnya hanya sebagai pemicu, tegangan ini tidak dipakai lagi ketika smps sudah bekerja. Pada umumnya, tegangan pemicu diambil dari 308V dengan melalui R atau transistor start up.
Switcher

Switcher berfungsi sebagai penswitch utama transformator, pada umumnya menggunakan transistor atau FET. Karakteristik switcher harus mampu menahan arus kolektor/drain yang cukup besar untuk menahan tegangan pada lilitan primer transformator. Arus ini bukan arus konstan melainkan arus sesaat tergantung lebar pulsa yang menggerakkan. Selain kemampuan arus, transistor/fet switcher harus mempunyai frekuensi kerja yang cukup untuk diperkerjakan sebagai switcher.
Error Amp/Detector

Rangkaian Error Amp/detector berfungsi sebagai stabiliser tegangan output. Cara kerjanya adalah membandingkan tegangan output (diambil dari lilitan sekunder trafo) dengan tegangan referensi yang stabil. Jika tegangan output terlalu tinggi, rangkaian ini akan mengendalikan/memberitahu rangkaian primer/switching utama untuk segera menurunkan tegangan. Kunci dari AutoVoltage berada pada blok ini.
Tegangan sekunder yang dihasilkan dinaikkan dengan cara melebarkan pulsa, dan sebaliknya untuk menurunkan tegangan output dengan cara menyempitkan pulsa yang masuk ke switcher (penswitch=TR/FET final).

Jika Error Amp gagal/tidak ada, rangkaian smps akan ‘dipaksa’ untuk menswitch (mengkonsletkan) lilitan primer dengan lama yang melebihi kemampuan switcher, akibatnya TR/FET final akan rusak.

Lokasi rangkaian error amp dapat ditemukan di bagian primer (nyetrum/hot) atau bisa ditemukan di bagian sekunder (non hot area). Pada model-model smps terdahulu, sering dijumpai pada primer, pada smps yang lebih baru dapat dijumpai pada bagian sekunder (non hot area) dengan menggunakan optocoupler (mis. PC817, P721, P621 dll) sebagai lintasan sekaligus isolator rangkaian Error Amp. Sanken Error (SE090, SE115) merupakan IC error amp yang sering dipakai pada smps saat ini. SE090, SE110, SE115 dan SE lainnya merupakan buatan Sanken/Allegro Semiconductor.
Snubber Circuit

Jika diartikan secara harfiah, snubber=mencerca, memang sedikit salah kaprah, tapi sebenarnya memang tujuannya begitu. Pada sistem smps, trafo diswitch (diberi tegangan sesaat olah TR/FET final) dengan lama tertentu, kemudian TR/FET akan melepaskan (meng-off-kan) trafo. Ketika diberi tegangan, inti transformer menjadi magnet sesaat hingga trafo di-off-kan. Ketika trafo di-off-kan, trafo akan men-transform energi magnet ke lilitan sekunder hingga trafo di-on-kan lagi begitu seterusnya.

Tidak seluruh energi/magnet dalam trafo dapat dipindah semuanya (akibat tidak sempurnanya trafo=efisiensi trafo) mengakibatkan masih adanya magnet yang ‘ngendon’ di dalam inti trafo. Energi magnet yang ngendon tersebut secara langsung masuk ke TR/FET melalui kaki kolektor/drain dengan tegangan mungkin lebih tinggi dari kemampuan kerja tr/fet final. Fungsi utama dari snubber circuit adalah untuk menghilangkan/mengkonsletkan tegangan tersebut (mempercepat demagnetisasi). Selain itu, snubber juga dipakai untuk menentukan/mengadjust frekuensi kerja trafo. Karena sifat ‘mencerca’ kerja smps tersebut akhirnya disebut snubber circuit.

Ciri utama snubber circuit adalah tersusun dari kombinasi C dan R (dalam beberapa jenis terdapat dioda) yang dipasang secara paralel terhadap lilitan primer trafo.
Secondary Rectifier

Tegangan pada sekunder transformator bukan dalam bentuk AC, melainkan DC yang berbentuk pulsa. tegangan yang muncul pada sekunder trafo disearahkan dan difilter untuk menghasilkan tegangan DC sekunder. Karakteristik penyearah/dioda harus mempunyai berjenis fast rectifier. Misalnya UF4002 (bukan 1N4002). Fast rectifier dimaksudkan untuk mampu menyearahkan pulsa dengan frekuensi tinggi. Elko perata cukup menggunakan ukuran beberapa ratus uF, karena frekuensi tegangan yang keluar dari trafo cukup tinggi (tergantung frekuensi kerja smps).
Blok Proteksi

Blok proteksi yang penting untuk kesempurnaan smps antara lain : 1. OVP (over voltage protector) berfungsi untuk mendeteksi tegangan yang berlebihan. Blok ini akan mengoffkan smps jika terdeteksi tegangan yang lebih. 2. OCP (Over Current Protection), berfungsi untuk mendeteksi beban lebih, smps akan off jika terdeteksi pemakaian lebih pada bebannya. 3. OHP (over heat protection), jika terlalu panas, smps akan shutdown dengan sendirinya.

Hampir semua blok tersebut sudah masuk dalam satu IC smps. misalnya STR-W575x, STR-F665x dan lain-lain.
-bersambung-
emahami dan Mengenal IC Program TV (bagian 2: BUS DAN FUNGSI SPESIFIK PIN/PORT)

Untuk berkomunikasi dengan perangkat lain (memori, switch, dll), microprosesor menggunakan pin/port IO secara paralel. Penggunaan port secara paralel mempunyai kekurangan yaitu banyaknya kabel yang dibutuhkan. Untuk mensiasati hal tersebut, diciptakan Bus (jalur data).
Pada sistem TV, jalur data yang sering dipakai adalah SPI dan I2C. Sedangkan penjelasannya sebagai berikut:
  1. SPI: menggunakan 3+1 jalur data, yaitu: Clock/CLK berfungsi memberikan clock/denyut, MOSI/DI berfungsi sebagai jalur data input dari luar IC, MISO/DO berfungsi sebagai jalur data output IC, dan tambahan satunya yaitu SS/CS untuk memilih IC/slave dan menandai bahwa IC tersebut dalam proses/terpilih. Contoh IC yang menggunakan SPI adalah IC memory 93C46, 93C66.
  2. I2C: menggunakan 2 jalur data, yaitu SCL berfungsi sebagai pemberi clock pada bus dan SDA berfungsi sebagai jalur data input/output (dua arah). Contoh IC yang menggunakan protocol/bus I2C adalah IC memori seri 24Cxx (24C01, 24C02, dll), IC pendukung TV misalnya AN5891K (sound processor), PLL tuner dan lain-lain. Hampir sebagian besar TV saat ini menggunakan bus I2C karena keringkasannya.

KONEKSI I2C
Contoh koneksi bus I2C pada TV (ambil contoh TV LG model CP14B85 sasis MC83A)



Pada gambar di atas, dapat dilihat bahwa IC chroma/vcd, tuner dan mpx terhubung jadi satu menggunakan SDA2 dan SCL2. Tiap-tiap device/IC/perangkat yang terhubung tersebut mempunyai alamat digital yang berbeda-beda dan memang harus berbeda. Alamat-alamat tersebut digunakan oleh master untuk me-load atau me-set data.

SEKILAS TENTANG PROTOKOL I2C
Protokol adalah bahasa digital yang dipakai oleh komputer/microprosesor untuk berkomunikasi dengan perangkat lain. Secara singkatnya protokol I2C adalah sebagai berikut:
  1. Microprosesor/master mengirimkan sinyal/data/status START, kemudian diikuti oleh data yang berisi address/alamat dari device/perangkat yang dituju. Ketika pada bus ada status START, semua Slave (IC lain yang terhubung pada bus) dalam posisi mendengarkan/siap-siap.
  2. Ketika ada slave yang merasa sama addressnya (dipanggil oleh master), slave tersebut akan mengirimkan sinyal ACK (aknowledge=semaur dalam bahasa jawa).
  3. Setelah master menerima ACK, master akan mengirimkan data perintah/request kepada slave. Perintah yang dikirimkan terdiri dari perintah menulis atau perintah membaca.
  4. Slave yang diperintah/direquest akan mengirimkan data yang diminta/direquest oleh ic program. Misalnya diperintah untuk menulis, slave akan menulis data yang diterima kemudian mengirimkan ACK untuk memberitahu kepada masternya bahwa data sudah tersimpan.
  5. Transmisi diakhiri dengan adanya sinyal STOP yang diberikan/dibuat oleh master.
Lebih jauh tentang I2C baca I2C manual dari Philips (bisa didownload pada situs Philips. Sekarang NXP).

FUNGSI SPESIFIK PIN/PORT

Dalam sebuah IC program TV terdiri dari beberapa pin yang secara umum nama dan deskripsinya sebagai berikut :
  • VDD, VSS: pin berfungsi untuk memberi supply tenaga pada ic program.
  • X1, X2: pin untuk koneksi kristal. Kristal berfungsi sebagai osilator untuk memberikan clock bagi ic program. Clock adalah denyut jantung suatu sistem microprosesor.
  • TEST: dipakai untuk proses test ic program, hanya dipakai oleh pabrik. Pada umumnya ketika beroperasi, pin ini langsung disambungkan ke ground/VSS.
  • RESET: dipakai untuk mereset program, jika ic program mendapat sinyal reset, maka program akan mengulang/menjalankan ulang software yang terpasang/terprogram dari awal. Pada umumnya aktif ketika pin RESET mendapat tegangan 0 volt (active Low).
  • D OSC: berfungsi sebagai osilator OSD. Bekerja secara free running berdasarkan sinyal sinkronisasi.
  • V SYNC, H SYNC: berfungsi sebagai input sinkronisasi untuk mensinkronkan pin D OSD. Pada sistem OSD, pin ini adalah sebagai kursor/panduan untuk menampilkan huruf/karakter OSD pada layar (untuk menempatkan posisi huruf pada layar). Jika pin ini terganggu (tidak ada sinyal), IC program akan bingung bagaimana cara menampilkan OSD ke layar (tidak ada OSD).
  • BLK: berfungsi sebagai input Blanking Video, yaitu celah/pulsa untuk menyisipkan OSD pada layar. Jika BLK terganggu, OSD akan gelap atau bahkan tidak tampil.
  • R, G, B: berfungsi sebagai output OSD yang akan ditampilkan pada layar.
  • P/KEY/IR: berfungsi sebagai Key Input atau keyboard untuk interface dengan pemakai.
  • SDA, SCL: bus I2C. Berfungsi sebagai bus untuk berkomunikasi dengan device lain secara dua arah.
  • 50/60: berfungsi sebagai input untuk mengetahui bahwa video yang ditampilkan Vertical Refresh Rate menggunakan 50/60 Hz.
  • TV/AV: Selector TV/AV. VHF L, VHF H, UHF: Band selector. Pada umumnya, jika dipilih UHF, maka pin UHF pada posisi Hi, VHF L dan VHF H pada posisi Low 0 volt.
  • DAC OUT (VT, VOL, BRIGHT, COLOR, HUE, dll): pin yang mengeluarkan tegangan analog untuk mengontrol peralatan lainnya.
  • AFT: pin yang berfungsi sebagai input untuk memberitahu IC program bahwa ada channel TV yang tertangkap. Pin ini berjenis ADC.
Seperti biasa metode saya dalam memperbaiki TV pertama tama adalah cek visual pada keseluruhan chasis dan komponen pada Chasis, ternyata tidak ada komponen yang terbakar.
Saya cek ke bagian solderan Chasis,,ups,,,kelihatannya banyak solderan yang sudah retak, saya pun menyolder ulang semua titik solderan sekalian. Kadang dengan cara ini kita bisa lebih yakin supaya tidak ada yang terlewat.
Setelah selesai menyolder hampir semua titik saya pun mencoba menyalakan TV,,,hmmmm ternyata kerusakan masih persis sama . Apanya saya pikir,,,,,lanjut kebagian Horizontal saya ukur tegangan pada masing masing pin flyback,,,ternyata normal.
Tegangan B+ normal sekitar 130VDC, saking penasaran nya saya langsung saja ganti flyback,,,hhhhh,,,,ternyata masih sama. Penggantian juga dilakukan pada beberapa komponen di sekitar flyback dan transformator switching tetapi hasilnya nihil….fiuuhhh,,,,   2
Pengecekan berlanjut ke bagian power supply, semua ELCO pada blok supply saya ganti, STR dan kapasitor 2 kecil pun ikut diganti, saya coba kembali nyalakan TV , kerusakan masih sama heuheuheu…tenang tenang,,,,biar ga  stress sambil dengerin music  hehehe
Ok semua komponen aktif yang dicurigai di blok horizontal dan supply sudah coba diganti,,,kecuali satu yaitu opto copler, walaupun jarang mengalami kerusakan saya pikir tidak ada salahnya mencoba ,,,,ternyata setelah TV dinyalakan gambar yang muncul normal alias full heuheuheu…
Saya tidak habis pikir ternyata biang keladinya adalah si sensor tegangan 4 kaki ini nih,,,yup itu dia serunya service TV , terkadang apa yang menjadi penyebab kerusakan adalah yang benar benar diluar dugaan.
Oya bagi anda yang tidak tahu atau masih awam, Opto coupler ini adalah komponen pada blok power supply yang biasanya terdapat di dekat transformator switching power supply.

Sedangkan fungsinya sendiri adalah untuk menyetabilkan tegangan pada output Transformator  saya juga memberikan gambarnya supaya bisa lebih jelas….Ok semoga bisa menambah pengetahuan rekan semua, bagi yang punya pengalaman service silahkan share yaa  
Kerusakan TV pada bagian Power Suply :
Beberapa macam kerusakan yang ditemukan pada televisi:
a)Mati total
jengkel ga' sich saat asyik2nya nonton acara favorit tiba2 tv kita mati total.Untung pernah belajar elektronik jadi bisa memperbaiki sendiri. berikut ini saya sampaikan beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memperbaiki televisi:
###warning"risk of electric shock"please be careful;###"Hati hati terhadap kejutan listrik(kesetrum).Utamakan keselamatan diri. This is firt step:
a)sebelum memperbaiki kelangkah yang lebih jauh pertama-tama kita melakukan pengecekan bagian yang paling mudah dijangkau.Cek AC CORD(cok AC/stop kontak)lihat kondisi AC CORDnya apakah masih bagus atau sudah hangus terbakar.
b)periksa kabel AC CORD&Kabel stopkontaknya.Apakah masih baik kondisinya ato putus.Jika putus,gnti dengan yang baru atau sambung.
c)setelah langkah diatas dilakukan dan dipastikan semua kondisi part (bagian)diatas baik maka mau tidak mau kita harus membongkar unitnya.Pastikan AC CORD sudah tercabut dari jala2 listrik PLN.Bongkar tutup belakang unitnya yang terdiri
dari 6-9 baut(tergantung jenis&merk tv)menggunakan obeng plus(+).
d).Setelah tutup belakang(back cover) terbuka kita melakukan pengecekan fisik komponen2nya.Terutama pada bagian SMPS(Switching Module Power Supply)(mohon dikoreksi) pada bagian primernya dekat trafo.Yang biasanya terdiri dari fuse,mosfet.
Dioda,elcho,resistor,kapasitor,induktor(coil).Periksa fisiknya apakah ada yang terbakar,putus,gosong,dsb.
e)Lepas komponen yang fisiknya rusak dengan menggunakan solder,dan desolder(atraktor).Sebelum komponen yang dilepas akan diganti dan Jika fisik komponen tidak ada yang mencurigakan lakukan langkah yang selanjutnya.
f)Lepas&Cek komponen mosfet pada bagian primer (komponen yang diberi pendingin) dengan menggunakan MULTIMETER(AVO METER).Apakah short?Jika iya persiapkan pengganti yang baru.Sebelum komponen baru penggantinya dipasang langkah selanjutnya
g)cek semua komponen selain mosfet antara lain resistor,dioda,capasitor,elcho,transistor maupun fixed coil.
h)ganti semua komponen yang rusak
i)pasang semua kompenen yang baru kecuali mosfet,cek dan teliti solderan dan penempatan komponen penggantinya.
j)cek dioda2 pada bagian sekundernya terutama pada bagian tegangan 115v(B+).
k)jika kondisi dioda2nya masih baik langkah berikutnya mengecek tegangan gate start mosfet test point(tp)gate biasanya terletak pada lubang untuk kaki komponen mosfet yang pinggir Dan Yang bukan dapat ground.
Tegangan normal gate 5V dc.Tidak boleh lebih ataupun 0V.Pengecekan tegangan gate harus hati2 dikarenakan tegangan pada elco filter setelah dioda bridgenya besar meskipun tegangan dc dan ini lebih berbahaya daripada tegangan ac.
Jika tegangan pd gate mosfet yang diukur tidak sebesar 5v baik terlalu lebih ataupun sebesar <2v.Cek transistor2nya dan dioda2nya.(komponen yang lainnya.)
l)setelah dipastikan tegangan gate start mosfet normal barulah kita memasang mosfet yang baru
m)langkah berikutnya mengecek pemasangan komponen barunya apakah sudah sesuai dengan komponen yang lama,solderan2nya apakah ada yang short atau tidak.
n)Setelah komponen terpasang semua.Saatnya kita mencoba hasil pekerjaan kita.Letakan probe merah multimeter ke tegangan B+ dan probe hitam keground.Range multi diatas 150v.ALANGKAH BAIK DAN AMANNYA RESISTOR PENGHUBUNG
TEGANGAN B+ DENGAN RANGKAIAN HORIZONTAL DILEPAS TERLEBIH DAHULU ini bertujuan agar saat tegangan B+ terlalu besar rangkaian horizontalnya tidak rusak.Hubungkan AC CORD kejala2 PLN sebentar saja,lihat penunjukan multimeternya
apakah tegangannya sudah tepat 115v.Jika sudah tepat tegangan B+ dan tegangan2 yang lainnya.
o)Pasang resistor yang td dilepas dan jika tidak ada kerusakan pada komponen yang lain maka jreeeeng tv kita nyala kembali....Horeee....
p)langkah berikutnya jangan lupa rapikan kembali kabel2nya terus pasang kembali back covernya dan televisi yang telah kita perbaiki siap ditonton kembali.
Switch Mode Power Supply (SMPS)

Dinamakan Switch Mode Power Supply (SMPS) karena sistem kerjanya menggunakan metode switching (pensaklaran) yaitu menghidup matikan tegangan yang masuk ke dalam trafo dengan peralatan/komponen elektronik dengan frekuensi tertentu. Sedangkan nama AC-matic diambil dari salah satu kelebihan dari SMPS yaitu kemampuan power supply bekerja dengan rentang tegangan masukan yang lebar. Pada beberapa jenis smps, mampu bekerja pada tegangan masukan antara 90 s/d 265V dengan output yang sama dan stabil. Karena kelebihan tersebut, smps menjadi auto-voltage regulator atau wide range input regulated power supply (secara mudahnya disebut AC-matic).
BAGIAN 1 BLOK-BLOK SMPS
transformator (trafo)
Pada sistem power supply konvensional yang menggunakan trafo, supaya tranformator bisa me-transform (memindah) daya dari primer ke sekunder, trafo harus diberi masukan yang berpulsa. Masukan trafo power supply jenis konvensional dihubungkan secara langsung dengan tegangan masukan yang berbentuk AC, karena hanya tegangan AC yang mempunyai denyut/frekuensi (polaritasnya berganti-ganti dengan periode tertentu). Kekurangan utama jenis konvensional adalah ukuran dari tranformator yang dipakai. Semakin rendah desain frekuensinya, semakin besar ukuran trafonya, walaupun dengan daya keluaran yang sama.

Pada desain trafo konvensional dengan input 220VAC/50Hz dan output 12VA, ukuran inti trafo sekitar 3 X 6 cm, jika seandainya dibuat trafo dengan input 220VAC/100Hz dengan output sama (12VA), mungkin ukuran inti dari trafonya menjadi setengah dari ukuran sebelumnya, atau, ukuran inti yang sama tetapi jumlah gulungan menjadi setengah dari sebelumnya. Kesimpulannya, frekuensi dari tegangan masukan menentukan ukuran dan desain dari trafo.

Pada sistem smps, pada umumnya bekerja pada frekuensi antara 30 s/d 40 KHz. Sehingga tidak heran jika trafo pada smps menjadi lebih ringkas. Karena frekuensi kerjanya yang tinggi tersebut, inti dari trafonya tidak lagi menggunakan plat besi tetapi sudah menggunakan ferit (besi oksida) yang notabene mempunyai kemampuan magnetisasi dan demagnetisasi lebih cepat daripada besi biasa.
Line Filter
Line filter befungsi sebagai filter tegangan masukan, tujuan utamanya untuk menghilangkan frekuensi-frekuensi liar dari line/jala-jala listrik (selain frekuensi tegangan AC masukan) yang dimungkinkan bisa mengganggu kerja dari smps. Line filter dibentuk dari induktor-induktor dan kapasitor-kapasitor yang dipasang secara seri terhadap tegangan masukan.
Rectifier
Blok penyearah berfungsi sebagai penyearah tegangan AC menjadi tegangan DC. Komponen-komponen penyearahan terdiri dari dioda-dioda dan elco. Dioda berfungsi sebagai penyearah dan elco befungsi sebagai filter untuk menghilangkan denyut ripple pada tegangan DC yang dihasilkan selain kapasitor-kapasitor yang dipasang paralel terhadap dioda. Jenis penyearahan pada umumnya menggunakan metode bridge rectifier, yang mempunyai kelebihan pada tingginya isolasi antara tegangan DC yang dihasilkan dengan tegangan AC masukan.

Tegangan masukan sekitar 220VAC setelah disearahkan dan melalui elko berubah menjadi sekitar 1,4 x 220 = 308VDC. Jika elko pada penyearah kering, tegangan 308VDC tersebut menjadi tidak tercapai sekaligus terdapat ripple. Akibat terburuknya adalah smps menjadi lebih panas (karena berusaha menstabilkan output dan terganggu bentuk pulsanya oleh DC ripple). Cara termudah mendeteksi ini adalah dengan mengukur tegangan 308V-nya atau munculnya suara mendecit/mengerik pada trafo utama.
Start Up
Di awal sudah disinggung bahwa smps menggunakan frekuensi kerja antara 30 s/d 40 KHz. Karena frekuensi tersebut tidak ditemukan pada tegangan DC, maka sistem smps harus membuat/menggenerasikan sendiri pulsa/denyut tersebut. Metode paling sering ditemukan adalah dengan metode self oscilating (osilasi sendiri). Pada jenis ini, rangkaian smps ibarat sebagai rangkaian osilator frekuensi daya tinggi. Tidak jarang juga ditemukan smps yang menggunakan IC untuk membuat pulsa tersebut, misalnya TDA8380, TEA2261, STR-group dll.

Dalam setiap sistem osilator, dibutuhkan tegangan awal/pemicu yang berfungsi sebagai pemicu awal rangkaian osilator untuk berosilasi. Tegangan pemicu ini muncul beberapa saat setelah smps mendapat tegangan masukan (AC in). Besar tegangan pemicu ini tergantung dari jenis rangkaian smps yang digunakan (contoh, pada STR-F665x osilator akan bekerja jika tegangan pemicu sudah mencapai 16V). Karena sifatnya hanya sebagai pemicu, tegangan ini tidak dipakai lagi ketika smps sudah bekerja. Pada umumnya, tegangan pemicu diambil dari 308V dengan melalui R atau transistor start up.
Switcher
Switcher berfungsi sebagai penswitch utama transformator, pada umumnya menggunakan transistor atau FET. Karakteristik switcher harus mampu menahan arus kolektor/drain yang cukup besar untuk menahan tegangan pada lilitan primer transformator. Arus ini bukan arus konstan melainkan arus sesaat tergantung lebar pulsa yang menggerakkan. Selain kemampuan arus, transistor/fet switcher harus mempunyai frekuensi kerja yang cukup untuk diperkerjakan sebagai switcher.
Error Amp/Detector
Rangkaian Error Amp/detector berfungsi sebagai stabiliser tegangan output. Cara kerjanya adalah membandingkan tegangan output (diambil dari lilitan sekunder trafo) dengan tegangan referensi yang stabil. Jika tegangan output terlalu tinggi, rangkaian ini akan mengendalikan/memberitahu rangkaian primer/switching utama untuk segera menurunkan tegangan. Kunci dari AutoVoltage berada pada blok ini.
Tegangan sekunder yang dihasilkan dinaikkan dengan cara melebarkan pulsa, dan sebaliknya untuk menurunkan tegangan output dengan cara menyempitkan pulsa yang masuk ke switcher (penswitch=TR/FET final).

Jika Error Amp gagal/tidak ada, rangkaian smps akan ‘dipaksa’ untuk menswitch (mengkonsletkan) lilitan primer dengan lama yang melebihi kemampuan switcher, akibatnya TR/FET final akan rusak.

Lokasi rangkaian error amp dapat ditemukan di bagian primer (nyetrum/hot) atau bisa ditemukan di bagian sekunder (non hot area). Pada model-model smps terdahulu, sering dijumpai pada primer, pada smps yang lebih baru dapat dijumpai pada bagian sekunder (non hot area) dengan menggunakan optocoupler (mis. PC817, P721, P621 dll) sebagai lintasan sekaligus isolator rangkaian Error Amp. Sanken Error (SE090, SE115) merupakan IC error amp yang sering dipakai pada smps saat ini. SE090, SE110, SE115 dan SE lainnya merupakan buatan Sanken/Allegro Semiconductor.
Snubber Circuit
Jika diartikan secara harfiah, snubber=mencerca, memang sedikit salah kaprah, tapi sebenarnya memang tujuannya begitu. Pada sistem smps, trafo diswitch (diberi tegangan sesaat olah TR/FET final) dengan lama tertentu, kemudian TR/FET akan melepaskan (meng-off-kan) trafo. Ketika diberi tegangan, inti transformer menjadi magnet sesaat hingga trafo di-off-kan. Ketika trafo di-off-kan, trafo akan men-transform energi magnet ke lilitan sekunder hingga trafo di-on-kan lagi begitu seterusnya.

Tidak seluruh energi/magnet dalam trafo dapat dipindah semuanya (akibat tidak sempurnanya trafo=efisiensi trafo) mengakibatkan masih adanya magnet yang ‘ngendon’ di dalam inti trafo. Energi magnet yang ngendon tersebut secara langsung masuk ke TR/FET melalui kaki kolektor/drain dengan tegangan mungkin lebih tinggi dari kemampuan kerja tr/fet final. Fungsi utama dari snubber circuit adalah untuk menghilangkan/mengkonsletkan tegangan tersebut (mempercepat demagnetisasi). Selain itu, snubber juga dipakai untuk menentukan/mengadjust frekuensi kerja trafo. Karena sifat ‘mencerca’ kerja smps tersebut akhirnya disebut snubber circuit.

Ciri utama snubber circuit adalah tersusun dari kombinasi C dan R (dalam beberapa jenis terdapat dioda) yang dipasang secara paralel terhadap lilitan primer trafo.
Secondary Rectifier
Tegangan pada sekunder transformator bukan dalam bentuk AC, melainkan DC yang berbentuk pulsa. tegangan yang muncul pada sekunder trafo disearahkan dan difilter untuk menghasilkan tegangan DC sekunder. Karakteristik penyearah/dioda harus mempunyai berjenis fast rectifier. Misalnya UF4002 (bukan 1N4002). Fast rectifier dimaksudkan untuk mampu menyearahkan pulsa dengan frekuensi tinggi. Elko perata cukup menggunakan ukuran beberapa ratus uF, karena frekuensi tegangan yang keluar dari trafo cukup tinggi (tergantung frekuensi kerja smps).
Blok Proteksi
Blok proteksi yang penting untuk kesempurnaan smps antara lain : 1. OVP (over voltage protector) berfungsi untuk mendeteksi tegangan yang berlebihan. Blok ini akan mengoffkan smps jika terdeteksi tegangan yang lebih. 2. OCP (Over Current Protection), berfungsi untuk mendeteksi beban lebih, smps akan off jika terdeteksi pemakaian lebih pada bebannya. 3. OHP (over heat protection), jika terlalu panas, smps akan shutdown dengan sendirinya.

Hampir semua blok tersebut sudah masuk dalam satu IC smps. misalnya STR-W575x, STR-F665x dan lain-lain.
Repair Procedures (eg. TV)
·  Sebelum menservis, sebaiknya cukupi/sediakan peralatan servis yang dibutuhkan dan siapkan peralatan-peralatan standar keamanan servis (jika ada).
·  Jika Anda seorang muslim, jangan lupa baca Basmallah sebelum mengerjakan sesuatu, termasuk servis.
·  Setelah berhasil membuka perangkat, sebaiknya bersihkan dulu mesin dari debu/kotoran, kalo perlu bersihkan juga bagian jalur PCB (bawah) dengan thinner. Jika mesin TV kelihatan bersih, proses servis lebih mengasikkan dan tidak menjemukan.
·  Amati semua komponen yang secara fisik ditemukan kejanggalan misalnya berkarat, gosong, retak, menggembung, dll. Jika ditemukan, segera dicek atau diganti.
·  Solder ulang pada bagian-bagian/solderan yang disinyalir retak dan akan retak. Misalnya resistor-resistor besar (1 atau 2 watt), kaki-kaki IC dan STR dll). Manfaat lain dari solder ulang, secara tidak langsung penyervis akan belajar memahami blok-blok dari mesin TV yang sedang diservis.
·  Khusus TV/perangkat yang sudah dilengkapi dengan Servis Menu, sebaiknya cek dulu data servis menunya sebelum menyolder, hampir sebagian besar kerusakan TV jenis ini disebabkan oleh berubahnya data settingan. Lumayan jika cuma mengubah data servis saja.
·  Hanya menservis per-blok, jangan berfikir kemana-mana. Usahakan tidak berfikir yang sulit-sulit terlebih dahulu, kadang kerusakan hanya bersifat 'sederhana'.
·  Jika menemukan kesulitan, lakukan tindakan pengumpulan data, misalnya bertanya ke teman, membaca datasheet, skema dll.
·  Jika ditemukan komponen/blok yang rusak, cari penyebabnya terlebih dahulu sebelum penggantian. Misalnya transistor horisontal rusak/mati mungkin disebabkan oleh TFB yang konslet.
·  Setelah TV yang diservis bisa menyala normal, biarkan menyala selama 5 s/d 15 menit, selama menyala amati jika ada gejala tidak normal, misalnya suara yang 'aneh', setelah dimatikan, sentuh/cek komponen-komponen aktif dari panas berlebih (overheat), jika dirasa sudah beres, bisa ditutup kembali dan menunggu bayaran.
Cara Aman Mengetes Power Supply (AC-MATIC)

Memperbaiki rangkaian/bagian ac-matic/smps peralatan electronic memang gampang2 susah. Dengan jurus reboisasi ala dinas kehutanan atau jurus tes komponen satu-persatu dengan njelimetnya. Setelah semua komponen terpasang dan masih kinclong2 tiba saatnya untuk mengetes/mencoba. Dag-dig-dug, jantung berdebar-debar, bisa nggak ya.... atau malah kebakaran....???
Itulah dulu (sekarang kadang juga masih kok). Biar aman dan nggak was-was, beberapa rekan menyarankan untuk menggunakan tegangan 110V. Cara ini oke juga, sudah mengurangi rasa was-was. Manjur untuk ac-matic tipe tertentu tetapi ada beberapa jenis skema SMPS ketika dicoba dengan 110V bisa beroperasi dengan baik, tapi ketika dicoba dengan 220V langsung kebakaraaaan!!!, wah-wah kalo begini terus bisa tekor nih...
Setelah tanya sana-sini dan baca-baca artikel tentang cara aman mengetes power supply ditemukan cara yang lebih aman, yaitu dengan jurus lampu pijar 220V/60watt. Alhamdulillah cara ini yang paling amaaan hingga sekarang. Cara ini saya dapatkan dari hasil membaca buku ARRL.
Caranya pasang lampu pijar secara seri terhadap rangkaian yang mau dites. skema jelasnya begini:

AC IN 220 SMPS yang dites
----------------------------

Sebelum mencoba smps, beban pada smps dilepas dulu (kalo pada TV, beban untuk B+ ), Ketika dicolokkan ke listrik, amati nyala lampu:
-- Pertama-tama lampu akan berpijar terang +- 1 deti'an (karena mengisi elko) kemudian menyala redup (atau bahkan tidak menyala sama sekali). jika smps yang dites beroperasi dengan baik --> tegangan sekunder muncul (lanjutkan dengan mengetes semua tegangan keluaran). Biarkan menyala kira2 1-5 menit, jika tidak ada perubahan terhadap nyala lampu berarti smps dirasa sudah siap dioperasikan tanpa lampu. Jika tidak ada tegangan keluaran sama sekali, berarti ada trobel dibagian startup (tv sharp R560K, tv digitec jadul R120K-an).
-- Jika lampu menyala terang terus (kaya slogannya philips), berarti ada yang konslet di rangkaian smps atau komponen aktif smps dalam keadaan ON/switched terus >> tidak ada output. cek lagi komponen/rangkaiannya. Jangan lama2 mengetesnya tujuannya agar tidak sempat merusakkan komponen aktif smps (TR, FET dll), kalo kelamaan, resiko ditanggung penumpang.

Ooo iya... ketika masih ada lampu yang terpasang, smps JANGAN diberi beban, nyala lampu akan menyesuaikan jumlah beban, semakin terang semakin besar bebannya. Karena lampu bersifat resistif, nilainya meningkat sesuai dengan bebannya, dapat menyebabkan tegangan yang masuk ke smps menjadi turun hingga dibawah 125V dan kejadian ini bisa fatal jika smps yang dicoba tidak mampu bekerja pada tegangan input sebesar itu!!!

Untuk mengatasi problem tv yang ketika dinyalakan pertama kali, spedometer listrik langsung njegleg dengan cara dipasangi R 20 watt dengan nilai sekitar 20 ohm-an dan disambung secara seri pada input listriknya (pada TV goldstar R39 ohm/7W). Ternyata cara ini merupakan pengembangan dari metode lampu tersebut.

Transistor Regulator tv

Transistor Regulator TV.
Sering kita dibuat kesal dengan turun-nya tegangan listrik apalagi ketika beban puncak,
Tegangan pasti turun bahkan pernah hanya dikisaran 125v-130v. Meskipun kebanyakan perangkat elektronik sudah pakai power suply AC matic, tapi belum tentu bisa
mentolelir di tegangan serendah itu.
Ya gimana lagi, ketersediaan listrik terbatas, yang pakek seabrek.
(bicara kenyataan, kasian orang kecil yang gak bisa beli stavol besar ehm.. Sorry loh Beh..)

Karena itu sobat teknisi sering meng gonta-ganti Transistor power suply tv, pun gak lama
kemudian mati lagi.. capek dech...

Produsen tv sering menggunakan Transistor :

D 1885, D1877, D 1710 Dan seterusnya untuk Power Suplay.
Data Transistor diatas adalah:
  • Jenis: Silicon NPN Transistor, TV-HA, 1500/800v, 4A s/d 6A, 50W s/d 60W.
Cobalah menggantinya dengan Transistor 2SC 3460 atau biasanya tertulis C 3460.
Datanya adalah:
  • Jenis= Silicon NPN Transistor, S-L, 1100/800v, 6A, 100w.
Carilah Transistor C 3460 yang kualitasnya bagus.

Jangan lupa pasang isolator dan silicon grase antara Transistor dan Heatsink/Pendingin.
Menurut hasil uji coba Transistor ini bisa bertahan lebih lama.

Semoga artikel kali ini bermanfaat trims,

Kalau sobat Kharisma juga punya tips bagus, Tulis di kolom komentar dibawah artikel ini ok.

Pengalaman penggunaan Universal Power Suply

Menghadapi kerusakan bagian power suply yang suliiiiiit,....... kadang akan lebih cepat diselesaikan dengan cara mengganti dengan ASTILO Universal Power Suply (selanjutnya kami singkat UPS). Tetapi dari pengalaman kami kadang ada beberapa yang tidak berjalan dengan mulus.
Hal utama yang perlu diperhatikan adalah :
·                     Selama ini yang kami lakukan adalah menggunakan UPS dengan hanya memasang kabel merah dan hitam saja (kabel biru tidak digunakan). Dan sirkit photocoupler tidak digunakan lagi.
·                     Adjust tegangan (adjust VR) dengan cara sesuai petunjuk, yaitu dengan cara memasang sementara beban B+ menggunakan lampu dop 100W (Tr HOT sementara dilepas dulu)
·                     Kemudian lepas lampu dop dan ukur tegangan B+. Biasanya tegangan akan naik sekitar 10%. Hal ini tidak perlu dirisaukan
·                     Jika tanpa beban tegangan B+ menjadi naik sangat tinggi – berarti anda mendapatkan masalah. Pada saat st-by nanti tegangan B+ akan naik. Jika tegangan melebihi 160v maka akan menyebabkan elko B+ rusak
·                     Perhatiakan sirkit power suply yang dipasang UPS – Apakah sudah mempunyai sirkit “snubber” pada kumparan 300v. Kalau belum ada –perlu dipasang snubber baru seperti petunjuk pemasangan. Tidak ada sirkit snubber dapat menyebabkan umur FET tidak lama.

I. Pengalaman kami penggunakan UPS untuk mengganti power suply dimana saat “st-by” dan saat “power on” tegangan B+ tetap sama, pemakain UPS tidak ada masalah sama sekali. Misalnya untuk pengganti power suply china yang menggunakan 3 transistor, power suply model-model bahula, power suply dengan STR5015 dan sejenisnya.

2.Untuk power suply dimana tegangan “st-by” rendah dan tegangan saat “power on” berubah naik menjadi lebih tinggi, kalau dipasang begitu saja akan dapat menyebabkan ada part yang terbakar ketika pesawat pada posisi st-by. Misalnya pada power suply Polyton, Sharp, power suply STR6707 dan sejenisnya. Menghadapi kasis ini memang sedikit sulit.
·                     Dengan UPS maka tegangan B+ akan tetap tinggi pada saat st-by
·                     Biasanya tegangan Vcc 5V saat “st-by” dan saat “power on” mendapat suply dari jalur yang berbeda. Maka sirkit jalur dari suply Vcc 5v saat st-by “kami lepas” atau jalur diputus). ( lihat contoh gambar dibawah)
·                     Kadang akan menyebabkan sirkit horisontal akan bekerja terus, walaupun mikrokontrol sudah “off”. Walaupun teve nampaknya sudah gelap seperti mati, tetapi sebenarnya flyback masih tetap bekerja. Menjumpai hal seperti ini maka kami buatkan kontrol “on-off” untuk mengontrol tegangan suply H. Vcc. Agar bagian horisontal osilator dapat mati-hidup. Sirkit dapat di”contek” dari model-model yang menggunakan cara seperti ini. Harus diperhatikan perintah “power on” dari mikrokontrol, menggunakan logika “high” atau “low” saat power-on. (lihat contoh gambar dibawah)

3.Suatu saat kami memasang UPS untuk mengganti regulator STR-Wxxxx (.....hal ini tidak selalu terjadi demikian) dimana tegangan B+ saat “st-by” dan saat “power on” tegangan B+ tetap sama. Dengan memasang UPS ternyata saat st-by tegangan melonjak menjadi 200v lebih (saat power-on tegangan 135v). Untuk mengatasi problem ini kemudian kami coba pasang resistor jalur B+ dengan ground, dengan tujuan saat st-by masih ada beban. Hasilnya saat st-by tegangan B+ turun menjadi hanya 150v dengan memasang resistor semen 5k/10w.

4.Catatan :
·                     Kami sudah beberapa kali melakukan eksperimen/modifikasi dengan menyambung kabel biru ke optocoupler untuk mendapatkan tegangan rendah saat st-by – tetapi sampai saat ini hasilnya masih NIHIL.
·                     Penggunaan UPS menmurut kami lebih praktis dan sederhana dibanding dengan power suply yang masih menggunakan tranfo switching pendahulunya.
·                     Untuk mengganti power suply model-model baru dimana power suply-nya sudah lebih efisien sehingga hanya memerlukan pendingin (heat-sink) dengan ukuran yang kecil. Mungkin perlu diberi tambahan pendingin yang lebih besar (cek panasnya terlebih dahulu)
· Kalau power suply kerusakan pada tranfo-switching, maka tidak dapat dilakukan pemasangan UPS.
· Kami sering terima pesanan modifikasi monitor komputer menjadi teve. FET pada bagaian power suply dapat diambil dan disimpan sebagai pengganti FET UPS yang rusak. Sementara ini untuk IC UPS kami belum pernah menjumpai rusak.
REKAN TEKNISI ADA PENGLAMAN LAIN DENGAN PENGGUNAAN UPS INI – KIRIM EMAIL UNTUK DAPAT DI-SAHARING KE REKAN LAINNYA

clip_image002Contoh skema Panasonic
·                     Saat st-by – IC-880 regulator 5v untuk mikrokontrol mendapat suply dari D854 – Q850 (transistor “on”)
·                     Pada saat power-on – Q850 “off” dan regulator IC880 ganti mendapat suply dari D853
·                     Karena itu jika digunakan  UPS maka R866 dan Q850 dapat terbakar jika tidak dilepas

clip_image004
Contoh kontrol on-off horisontal osilator (H Vcc) AKARI
·                     ·Saat st-by - Q803 “off”
·                     Saat power-on – Q803 “on” dan H vcc mendapat suply tegangan 9v dari D805 – lewat Emitor Q803 – Kolektor Q803.

REGULATOR TV POLYTRON MX14323

IC501:FS7UM
T506:C945
T507:A1015
T508:C1815
C520:102J/100V
C521:563J/100V
C522:472J/100V
C523:183J/100V
C524:2N23/1600V
B527:331K/1KV
C528:331K/1KV
C529:331K/1KV
C530:331K/1KV
C532:100N/275V
C533:332K/1KV
R520:2,4K
R521:220ohm
R522:1,2K
R523:2K
R524:33ohm
R525:100ohm
R526:0,33ohm
R527:0,39ohm
R528:19K
R529:47K
R531:220K
R532:220K
R533:2,2ohm
D516:48
D517:12VOL
D518:6V2
D520:IN4743
D521:IN4743

Regulator tv Toshiba 21V2E

STR G5653
C809=100UF/35VOL
C817=271K/2KV
C818=471K/2KV
C821=561K/500V
C822=102K/500V
C823=471K/500V
C829=102K/500V
C833=561K/500V
C862=331K/2KV
R802=100K
R805=680ohm
R807=680K
R809=43K
R815=5K6
R820=0,33ohm
R821=0,47ohm
R823=4,7K
R829=0,33ohm

CARA MEMASANG POWER SUPPLY UNIVERSAL

Ada kalanya kerusakan tidak begitu parah sehingga dengan mengganti transistor regulator nya saja sudah bisa pulih kembali, tapi ada kalanya kerusakan yang butuh ketelitian untuk mendeteksi alat yang rusak sehingga membutuhkan kesabaran dan ketelitian dalam memperbaikinya, jika sudah demikian itu maka  tidak akan pusing -pusing dan tidak akan membuang -buang waktu untuk berkutik di PSU tsb. Ingat "waktu adalah uang" jadi harus kita hargai benar waktu itu!!!  segera putuskan untuk mengganti PSU tersebut dengan kit PSU yang sudah jadi, yang banyak dijuala ditoko dan harganya pun murah cuma Rp 22.500,00.

Yang biasanya gunakan adalah New Generation Of Semi-Closed Switching Power Supply Module atau lain merek cuma masih sejenis yakni yang menggunakan 3 kabel, selain rangkaiannya yang sederhana dan memiliki perlindungan tegangan/arus lebih dan arus pendek (short circuit), tetapi juga mudah dalam memasangnya dan cepat, modul ini bekerja lebih stabil dan dapat diandalkan.
Modul ini cocok untuk memperbaiki dan mengganti swictching regulator power supply TV dari 14-34 Inc , juga cocok untuk monitor komputer, VCD, DVD, DVB, mesin Fax dan lain -lain.
CARA PEMASANGAN MODUL
1. Bongkar transistor swiching yang asli dari PCB PSU yang rusak
2. Solder-kan kabel merah modul pada bekas kaki Colektor
3. Solder-kan kabel hitam modul pada bekas kaki Emitor (Gnd Utama)
4. Putuskan beban output (Pada TV bagian horizontal). Nyalakan PSU dan ukur tegangan ouput, jika belum didapat tegangan yang dibutuhkan maka trimlah pada tripot nya yang ada pada modul
Misalnya untuk TV tegangan horizontalnya 90V,110V,115V atau sesuai kebutuhan. Untuk VCD/DVD/DVB ukurlah tegangan 3V,5V, dan 8V
5. Kabel biru bisa digunakan bisa juga tidak. Fungsi kabel biru adalah sebagi protect dan penstabil tegangan ouput. Jika kabel biru modul dihubungkan ke groud maka tegangan output akan off. di sarankan untuk menghubungkan kabel biru modul supaya tegangan mantap/stabil dan akan protect jika ada tegangan/arus lebih.
Cara menghubungkan kabel biru modul sebagai berikut:
- Putuskan atau bogkar komponen yang berhubungan dengan Optocoupler bagian output.
- Solderkan kabel biru modul pada kaki Optocoupler
7. Jika ada nois setelah pemasangan perangkat, mungkin ada komponen lainnya terputus terutama pada kaki kolektor “C” switchin transistor dan rangkaian penyerap nois yaitu, R1 (22 ohm - 47 ohm/3W - 5W) dan (470pf - 1000pf/1KV-2KV)
 Ssumber : F.B. Group Karya Tehnisi

Memahami cara kerja dan trobelshuting STR ic regulator

Yang dimaksud dengan STR pada tulisan ini misalnya adalah regulator Sanken seri STR-F/G/W dan Fairchild seri KA05Q 
Adalah merupakan ic Quasy Resonant Flyback (QRF) Swiching Regulator yang terdiri dari (a) kontrol IC dan (b) power MOSFET yang dikemas menjadi satu kesatuan. Regulator ini didesain sehingga hanya membutuhkan sedikit komponen luar.
 Sanken

Cara kerja

1. UVLO (under voltage lock out)
Regulator akan mulai bekerja jika tegangan Vcc start-up pada pin-4  mencapai 16v. Setelah power suply bekerja selanjutnya tegangan Vcc akan diganti disuply dari tanfo switching melalui sebuah diode penyearah. Pada saat sirkit telah bekerja jika tegangan Vcc kurang dari 15V, kontrol regulator akan masih tetap bekerja. regulator akan berhenti bekerja (protek)  jika tegangan suply Vcc drops hingga kurang dari 11v.
 
2. Kontrol umpan balik (pin-1)
Regulator bekerja menggunakan sistim PWM, dimana agar tegangan keluaran B+ stabil dikontrol oleh sirkit umpan balik dari tegangan keluaran B+ >>> photo-coupler >>> pin-1. Sebuah kapasitor dipasang pada pin-1  digunakan untuk mencegah agar kalau ada gangguan noise tidak mengganggu sistim kerja.
 
3. Soft start (pin-5)
Pada saat power dihidupkan pertama kali, maka sirkit uman balik belum bekerja karena belum ada tegangan keluaran B+. Hal ini menyebabkan arus start yang berat pada MOSFET. Untuk mencegah hal ini maka regulator diperlengkapi dengan sirkit soft start secara internal dan sebuah kapasitr  filter eksternal.
Jika power suply digunakan untuk Monitor misalnya, maka frekwensi  regulator perlu disinkronisasi. Sinyal sinkronisasi dari luar dapat di-inputkan lewat pin-5
 
4. Protektor
Regulator diperlengkapi dengan macam-macam protektor. 
·                     Over-current protektor (OCP) atau Over Load protektor (OLP). Misalnya jika terjadi kerusakan pada flyback atau def yoke, maka akan menyebabkan beban tegangan B+ over. Jika terjadi hal demikian maka regulator akan mati protek sehingga IC tidak rusak. Sebagai sensor over current adalah resistor dengan nilai kecil yang dipasang pada pin-2 ke ground.
·                     Short protektor. Jika tegangan keluaran B+ short, maka regulator akan mati protek.
·                     Over-voltage protektor (OVP). Regulator yang tidak diperlengkapi dengan protektor maka jika jalur umpan balik terputus dapat menyebabkan tegangan keluaran dari tanfo switching naik atau power regulator rusak.. Dengan OVP regulator akan mati protek jika tegangan suply Vcc pin-4 naik melebihi 22.5v.
·                     Thermal protektor. Regulator akan berhenti bekerja jika temperatur mencapai 140 derajat celcius.

6. Auto start.
Regulator akan auto start secara otomatis jika mati sendiri (protek) setelah OVP atau OCP



Trobelshuting

1. Tidak dapat start.
Dapat disebabkan karena : 
·                     Tidak ada tegangan suply start-up Vcc atau tegangan kurang dari 16v
·                     Elko filter tegangan suply Vcc kering.
 
2. Led indikator kedip-kedip
Kalau diperiksa tegangan suply Vcc goyang-goyang. Hal ini disebabkan karena regulator hidup-mati karena OVLO kerja., sehingga regulator mati-protek dan hidup auto start secara berulang.
Dapat disebabkan karena : 
·                     Elko filter tegangan suply Vcc pada pin-4 kering
men-triger OVP
·                     kapasitor filter pada input umpan pin-1 balik kering nilai menurun
men-triger OLP
·                     Diode penyearah dari tranfo switching rusak (kadang kalau diperiksa dengan avo-meter nampak seperti masih bagus)
menyebabkan tegangan suply Vcc dari tranfo switching drops (UVLO)
·                     Kerusakan part atau jalur putus pada sirkit umpan balik dari tegangan B+ ke regulator lewat photocoupler
men-triger OVP
·                     Elko filter tegangan B+ kering
men-triger OVP
·                     Salah satu tegangan keluaran dari bagian sekunder tranfo switching ada yang short (beban over)
mentriger OLP
·                     Kapasitor soft start nilai menurun
mentriger OLP
 
3. Timbul gangguan suara (noise)
Dapat disebabkan karena : 
·                     Gulungan tranfo kendor.
·                     Kalau ada kapasitor keramik - kadang dapat menimbulkan gangguan noise karena mempunyai karakteritik piezoelectrik seperti kristal resonator. Ganti dengan kapasitor film.
 
4. Saat st-by normal, tetapi ketika power-on langsung mati protek
Dapat disebabkan karena : 
·                     Sensor OVP resistor nilai kecil pada pin-2  ke ground nilai molor sehingga men-triger OLP atau OCP.
·                     IC regulator rusak

MODIF STR MENJADI TR REGULATOR

bbrpa hari yg lalu sy mdpatkn  servic an tv merk AKARI  mati total nmun mlang ny org yg pnya tv ga pny uang ckup utk mbiayai sluruh biaya yg sy prediksikan wlwpun ga sbrpa mahal komponen yg msti d gnti,awalny sy rgu mnerima oderan trsbut nmun sya pkir gk da slh ny d coba wlwpun gk sswy hsil ny,stlah sy buka tv trsbut dan sy cek krusakn bda pda blok regulator nya tpat ny TR regulatorny jebol awal ny sy jg kbingungan dgn cra bgymna sy hrs bsa mnghidupkan tv trsbut tnpa hrus mmbeli TR yg jebol,sya igat akn sbuah mesin tv jadul yg brda di gudang tmpt pnympanan brag2 bekas dn sya ambil trs sy cek bgyan regulatornya nmun malangnya reg mesin tv trsbut mnggunakan STR llu tnpa pkir pnjg sya copot STR trsbut stlah sy ukur trnyta msh bgus nmun yg sy bingung kaki STR trsbut da 5 kaki sdang kan yg sy btuhkan 3kaki sbgymna TR2 tsbut memang mmpunyai 3kaki PADA UMUM nya,akhirny scra tiba2 dlam pkir sy pegn mncoba memasng str trsbut pda tv AKIRA dgn cara kaki 1 dan kaki 5 dr str trsbut sy ptong dan kaki ke 2 dijadikan Basis kaki ke3 djadikan Colektor dan kaki yang ke3 dari STR trsbut mnjadi Emitor stlah sy slsy ptong kaki STR trsbut lalu sy pasang nmun sblumny STR trsbut msti di lapisi dgn mika agr tdk trjdi koslet,stlah slsy psang STR trsbut dgn hati btny2 apa mungkin tv ini bsa hidup sdangkn alat yg sy pky tdk sswy dgn kbtuhan regulator tr sbut,akn ttpi stlah sy on kn brrrrrrrrrrrrak tv pun mnyla dgn normal,untk mmstikan kpda yg pnya tv sya nyalakan trs tv tsbt slma kurg lbih 7jam nmun tv tsbut msh ttp ok dan heatsinkregulator panas ny jg normal.wlwpun oderan tsbut hsilny cm ckup bwt bli roko sy mrsa puas n snang krna d samping sy mnemukan sswtu yg sgat brhrga  sy jg bs mmnuhi kinginan yg pny tv dn smpy skarg yg pny tv mnjdi plagn sy..........
 felloelektronick    

cara kerja dan memperbaiki regulator tv


1. Memahami prinsip kerja SMPS
ü  1.01  Apakah yang dimaksud dengan SMPS
ü  1.02  Prinsip dasar kerja SMPS
ü  1.03  Alasan mengapa menggunakan SMPS
ü  1.04  Kelemahan SMPS
ü  1.05  Topologi sirkit SMPS yang digunakan pada televisi.
ü  1.06  Kenapa ada banyak macam sirkit SMPS.
ü  1.07  Bagian-bagian penting dari sirkit SMPS
ü  1.08  Filter noise EMI (electro-magnetic interference)
ü  1.09  Pembatas arus (surge current limiting)
ü  1.10  Macam-macam konfigurasi sirkit bagian pencacah.
ü  1.11  Sirkit CLAMP atau SNUBBER (transient absorber).
ü  1.12  Komparator dan PWM
ü  1.13  Televisi dengan 2 macam power suply.
ü  1.14  Tegangan yang keluaran yang dapat dirubah rendah dan tinggi (normal)
ü  1.15  Sirkit protektor pada SMPS
ü  1.16  Kelebihan MOSFET dibanding transistor bipolar untup power switching
ü  1.17 SAFETY TIPS pada saat sedang memperbaiki sirkit SMPS
ü 
2. Kerusakan-kerusakan SMPS
ü  2.01  SMPS tidak kerja sama sekali tidak ada tegangan B+
ü  2.02  Tips dan trick ika memperbaiki SMPS mati
ü  2.03  Power transistor langsung rusak lagi setelah diganti
ü  2.04  Indikator LED kedip-kedip dan tegangan B+ drops serta sedikit goyang-goyang.
ü  2.05  Tegangan keluaran B+ drops.
ü  2.06  Pada saat britnes gambar tambah terang tegangan B+ drops dan raster menciut
ü  2.07  Elko-elko pada bagian sekunder meletus pada SMPS China
ü  2.08  Saat stand-by timbul suara tik-tik…, saat pesawat hidup normal
ü  2.09  Tegangan SMPS tetap rendah tidak mau naik
ü 

 1. Memahami prinsip kerja SMPS

1.01 Apakah yang dimaksud dengan SMPS

SMPS mempunyai dua buah arti kata, yaitu :
ü  Power Supply – Artinya suatu peralatan yang berfungsi untuk menyediakan sumber daya listrik yang cocok dengan suatu peralatan. Pada umumnya sumber listrik yang tersedia adalah tegangan ac 220V sedangkan tegangan yang dibutuhkan untuk suatu peralatan umumnya adalah tegangan dc.
ü  Regulator Switching - adalah suatu sirkit elektronik yang berfungsi untuk membuat agar tegangan keluaran  stabil terhadap perubahan-perubahan seperti, tegangan masukan yang tidak konstan, arus beban yang tidak konstan, temperature ruangan yang tidak konstan.
ü 

1.02 Prinsip dasar kerja SMPS
SMPS secara garis besar meliputi kerja :
ü  Penyerahan - merubah tegangan masukan ac menjadi tegangan keluaran dc
ü  Konverter - merubah tegangan dc menjadi tegangan keluaran yang sesuai dengan kebutuhan
ü  Filtering - menghilangkan denyut (ripple) pada tegangan keluaran
ü  Regulasi - membuat agar besarnya tegangan keluaran stabil terhadap perubahan tegangan masukan dan perubahan beban.
ü  Isolasi - mengisolasi bagian sekunder dari bagian primer, dengan tujuan agar chasis bagian sekunder kalau dipegang tidak timbul bahaya kena sengatan listrik.
ü  Proteksi – mampu melindungi peralatan dari tegangan keluaran yang over dan melindungi power supply dari kerusakan jika terjadi suatu kesalahan.
ü 

1.03  Alasan mengapa menggunakan SMPS.

Hampir semua power supply saat ini menggunakan SMPS, hal ini karena regulator switching mempunyai beberapa keuntungan jika dibanding dengan regulator linear, seperti :
ü  Lebih ringan dan ukuran lebih kecil. Regulator linear membutuhkan tranfo 50Hz yang mempunyai inti besi yang berat. Makin besar daya (Watt) makin besar dan berat ukuran tranfonya. Sedang SMPS menggunakan frekwensi diatas 20Khz. Makin tinggi frekwensi switching, maka ukuran tranfo dan kapasitor filter semakin kecil.
ü  Lebih efisien pemakaian daya listrik. Regulator switching lebih sedikit menghasilkan panas, berarti lebih sedikit daya listrik yang hilang.
ü  Range tegangan masukan yang lebih lebar. SMPS mempunyai toleransi range tegangan masukan yang lebar. Dengan tegangan masukan bervariasi antara dc 150~300V (atau tegangan ac antara 90~265V), switching regulator masih mampu memberikan tegangan keluaran yang stabil.
ü 

1.04  Kelemahan atau kekurangan SMPS

Kelemahan-kelemahan yang dimiliki SMPS adalah :
ü  SMPS membutuhkan sirkit elektronik yang sedikit komplek dan lebih rumit. Tetapi saat ini sirkit sirkit SMPS sudah semakin lebih sederhana dengan adanya teknologi IC Hybrid Regulator seperti STR-Fxxxx, STR-Gxxxx, dimana membutuhkan lebih sedikit komponen luar.
ü  Menghasilkan gangguan noise frekwensi tinggi. Regulator linear bekerja pada frekwensi 50Hz dan menghasilkan gangguan denyut frekwensi kelipatannya yang dinamakan gangguan “Humming”. Sedang SMPS karena bekerja pada frekwensi diatas 30 Khz maka menghasilkan gangguan frekwensi tinggi harmonis yang dinamakan "noise" atau "EMI" (electromagnetic interference).
ü  Makin tinggi frekwensi switching, makin besar gangguan EMI dan makin besar kerugiannya daya. Oleh karena itu frekwensi SMPS pada televisi awalnya masih dibatasi pada frekwensi dibawah 100Khz.
ü 

1.05  Topologi SMPS yang digunakn pada televisi.

Ada berbagai macam topologi sirkit SMPS, tetapi yang paling banyak digunakan pada televisi adalah : 
ü  Buck SMPS atau Forward SMPS seperti yang menggunakan STR50092, STR50115.
ü  Flyback SMPS, merupakan SMPS yang sekarang dipakai hampir digunakan pada semua pesawat televisi dan mempunyai karakteristik
ü  Karakteristik Buck SMPS :
ü  Tegangan masukan harus lebih besar dari tegangan keluaran. Oleh karena itu jika dipasang pada tegangan 110v harus melewati “sirkit pen-doubler” terlebih dahulu, dimana tegangan ini akan dilipatkan menjadi 2x.
ü  Chasis bagian primer berhubungan langsung dengan chasis bagian sekunder. Oleh karena itu chasis sekunder tidak boleh dipegang, ada resiko kena sengatan listrik. Chasis semacam ini dinamakan “hot chasis” atau “non isolated”
ü  Karakteristik Flyback SMPS :
ü   
ü  Chasis bagian sekunder terisolasi dari chasis bagian primer. Chasis semacam ini dinamakan “cold chasis” atau “off line”.
ü 

1.06  Kenapa banyak macam sirkit SMPS.

Hal ini disebabkan karena teknologi SMPS saat ini terus dikembangkan dengan tujuan :
ü  Agar sirkit elektronik makin sederhana dan komponen makin sedikit.
ü  Agar ukuran dan beratnya semakin kecil
ü  Efisiensi terus ditingkatkan dengan memperkecil kerugian daya.
ü  Gangguan yang noise atau EMI sekecil mungkin.
ü  Low audible noise, yaitu tidak mengeluarkan suara yang dapat mengganggu pendengaran.
ü  Saat stand by membutuhkan daya listrik sekecil mungkin. Banyak negara maju sekarang ini men-syaratkan bahwa daya listrik pesawat saat stand-by harus kurang dari 1 watt
ü  Low cost, agar harga menjadi semurah mungkin.
ü  Reability ditingkatkan agar lebih handal. Penyempurnaan sistim protektor - agar regulator lebih aman terhadap kesalahan seperti, misalnya tegangan output over, arus beban output over, temperatur over, terjadi kerusakan pada rangkaian loop umpan balik. 
ü 

1.07 Bagian-bagian pokok dari sirkit SMPS

Bagian-bagian pokok dasar kerja sebuah SMPS adalah sebagai berikut :
ü  Bagian penyearah. Disini tegangan masukan dari jala-jala listrik ac 220v disearahkan menjadi tegangan dc menggunakan diode bridge dan sebuah elko filter besar.
ü  Bagian pencacah atau power-switching. Tegangan masukan dc dicacah dengan menggunakan "power switch on-off " sehingga menghasilkan tegangan pulsa-pulsa dc dengan frekwensi tinggi. SMPS televisi umumnya bekerja pada frekwensi sekitar 30 hingga 80KHz. Sebagai power switch dapat digunakan power transistor bipolar atau power MOSFET.
ü  SMPS kontroler driver sebagai pembangkit pulsa PWM (Pulse Wave Modulation). Sebagai sinyal drive untuk pencacah digunakan sebuah ic yang berisi sirkit osilator dan PWM  sebagai pembangkit pulsa-pulsa PWM. Ada sirkit SMPS yang tidak menggunakan SMPS kontroler driver, dalam hal ini transistor power switching dibuat agar dapat bekerja dengan cara “ber-osilasi sendiri”
ü  Tranfo switching. Tegangan dc yang telah dicacah mempunyai karakteristik seperti tegangan ac sehingga dapat dilewatkan sebuah tranfo atau induktor untuk dinaikkan ataupun diturunkan tegangannya.
ü  Penyearahan dan filtering tegangan keluaran. Tegangan keluaran dari tranfo masih berupa pulsa-pulsa frekwensi tinggi dan kemudian dirubah menjadi tegangan dc menggunakan diode penyearah dan filter elko.
ü  Loop umpan balik untuk membuat tegangan keluaran agar stabil.  Sirkit loop umpan balik dari tegangan keluaran B+ ke bagian primer digunakan untuk mengendalikan PWM.
ü  Sirkit komparator atau pembanding sebagai “error detektor”. Sebuah sirkit komparator pada bagian sekunder dipakai untuk mendeteksi jika terjadi perubahan tegangan keluaran B+. Komparator bekerja dengan cara membandingkan tegangan keluaran B+ dengan sebuah tegangan “referensi” (biasanya berupa tegangan diode zener 6.8v). Output komparator berupa arus yang kemudian diumpan balikkan ke bagian primer melalui sebuah photo coupler. Kopling menggunakan photocouler bertujuan untuk meng-isolagi ground bagian primer yang nyetrum jika dipegang (HOT chasis) dengan ground bagian sekunder (COLD chasis).
ü 

1.08 Filter noise EMI (electro-magnetic interference)

Bagian masukan listrik ac terdapat filter EMI yang terdiri dari sebuah kumparan dan kapasitor khusus yang dinamakan kapasitor X2 (dibaca eks-two) yang umumya berbentuk persegi. Kelemahan dari SMPS adalah dihasilkannya noise frekwensi tinggi yang dibangkitkan, dimana noise ini dapat menimbulkan gangguan-gangguan pada peralatan elektronik lainnya. Oleh karena itu dicegah agar noise tidak menjalar keluar lewat jaringan listrik maka dipasang filter EMI pada masukan sirkit SMPS.

Beberapa pengalaman yang pernah kami jumpai dengan masalah gangguan noise EMI ini dilapangan adalah :
ü  Menyebabkan VCD/DVD tidak dapat baca TOC sehingga "no disk"
ü  Menyebabkan radia AM tidak dapat terima siaran
ü  Menyebabkan TV yang berdekatan ada gangguan gambar
ü 
1.09  Pembatas arus (surge current limiting)

Pada saat pesawat televisi dihidupkan pertama kali, elko besar pada sirkit SMPS yang masih kosong membutuhkan “arus pengisian sesaat” yang sangat besar. Hal ini dapat merusak diode penyearah dan dapat meyebabkan listrik rumah “jeglek” jika dayanya hanya 450 watt. 
ü  Pesawat lama biasanya menggunakan sebuah resistor jenis semen UFR (Unflameable resistor) sebagai pembatas arus. Resistor ini kadang di-“short” menggunakan relay atau SCR jika pesawat telah hidup, hal ini bertujuan untuk menghemat daya listrik.
ü  Pesawat model-model baru sekarang hampir semuanya memasang sebuah NTC sebagai pembatas arus (berbentuk bulat seperti pil dan berwarna hitam) 
ü 

1.10  Konfigurasi sirkit bagian pencacah. 

Ada beberapam macam konfigurasi sirkit bagian pencacah yang dapat dijumpai pada model-model pesawat televisi.
ü  Pencacah menggunakan sebuah transistor power yang berosilasi on-off sendiri. Sirkit ini banyak digunakan pada televisi klas ekonomis seperti merk-merk China, yaitu SMPS yang menggunakan 3 buah transistor yang terdiri atas sebuah transistor power switching, sebuah transistor error driver C3807, dan sebuah transistor error detektor A1015.
ü  Pencacah menggunanakan sebuah IC yang sebenarnya isinya mirip seperti sirkit 3 buah transistor. Contoh ic semacam ini adalah STR50092, STR50115, STR54041, STR58041, STR51203
ü  Pencacah menggunakan sebuah power transistor atau power MOSFET yang didrive menggunakan sebuah ic SMPS kontroler sebagai pembangkit pulsa-pulsa. Contoh ic semacam ini adalah L6565, TEA1507, NCP1207, TDA4605, MC44604
ü  Pencacah menggunakan IC Hybrid yang sebenarnya berisi sebuah osilator PWM dan power transistor atau power MOSFET dalam satu kemasan. Contoh ic semacam ini adalah STR6707, seri KA5Qxxxx, seri STR-Fxxxx, seri STR-Gxxxx
ü 

1.11 Sirkit CLAMP atau SNUBBER (transient absorber).

Disebabkan karena kumparan bagian primer tranfo switching dilalui arus on-off dengan frekwensi tinggi, hal ini menyebabkan timbulnya tegangan induksi yang dinamakan ”transient atau ringing", dimana tegangan puncaknya dapat mencapai antara 900~1100v. Tegangan transient ini akan diterima power switching dan lama kelamaan dapat menyebabkan transistor atau MOSFET rusak. Kecuali itu ringing menyebabkan timbulnya gangguan noise atau EMI. Oleh karena itu pada bagian primer tranfo switching perlu dipasang sirkit yang dinamakan Clamp atau Snubber sebagai peredam tegangan transient ini.

1.12 Komparator dan PWM
Komparator digunakan untuk mendeteksi jika terjadi perubahan tegangan keluaran B+ dan merubahnya menjadi arus untuk diinformasikan ke bagian SMPS kontroler PWM melalui ic photocoupler. 


PWM akan mengatur agar tegangan keluaran B+ tetap stabil dengan cara sebagai berikut.
ü  Jika tegangan keluaran turun – maka arus yang melalui komparator akan turun – arus yang melalui doiode photocoupler akan turun – periode on PWM akan berubah tambah panjang – dan tegangan keluaran B+ akan dinaikkan.
ü  Sebaliknya jika tegangan keluaran naik – maka arus yang melalui komparator akan naik – arus yang melalui diode photocoupler akan naik – periode on PWM akan diperpendek – sehingga tegangan keluaran akan diturunkan.
ü  Sirkit komparator ada yang menggunakan sebuah transistor dengan sebuah zener diode. Tetapi ada banyak macam sirkit komparator lain yang sudah berbentuk ic, misalnya TLP431, SE115, S185.


1.13 Televisi dengan 2 macam power suply.
Televisi model lama yang sudah mempunyai kontrol remote "power" kadang ada yang  memiliki 2 macam power suply :
ü  Power suply  khusus untuk menghasilkan tegangan mikrokontrol dan memori. Ada yag masih menggunakan power suply linear dengan tranfo biasa, tetapi ada pula yang menggunakan SMPS
ü  Power suply untuk menghasilkan tegangan B+.  Power suply ini dikontrol on-off (hidup-mati) oleh bagian mikrokontol. Oleh karena itu jika ada kerusakan pada bagian ini maka bagian mikrokontrol harus diperbaiki lebih dahulu. Kontrol on-off dari mikrokontrol dapat dilakukan melalui “relay kontrol” atau melalui “photocoupler”
ü 

1.14 Tegangan yang keluaran yang dapat dirubah rendah dan tinggi (normal)

Ada beberapa model televisi dimana tegangan keluaran dirancang dapat berubah dari rendah ke tinggi (normal), yaitu :
ü  Pada saat stand-by tegangan-tegangan keluaran SMPS masih rendah
ü  Setelah power-on tegangan-tegangan keluaran SMPS berubah menjadi tinngi (normal).
ü  Tujuan dari sirkit yang dibuat demikian adalah untuk efisiensi saat stand-by agar menggunakan daya listrik sekecil mungkin. 

Rahasia cara kerja dari sirkit semacam ini adalah pada sebuah diode dan transistor yang dipasang pada photocoupler. 
ü  Pada saat stand-by - diode photocoupler dihubungkan langsung ke ground melalui sebuah diode dan transistor-drive yang pada posisi ‘on”
ü  Pada saat power-on – transistor drive akan “off’ sehingga hubungan diode ke ground akan terputus. Dan diode photocoupler akan tersambung normal melalui komparator.
ü 


1.15  Sirkit protektor.
SMPS yang menggunakan ic saat ini sudah diperlengkapi dengan beberapa macam protektor degan tujuan :
ü  Jika loop umpan balik terputus tidak menyebabkan power-switching rusak.
ü  Melindungi dari over current (OCP = over current protektor).
ü  Mencegah tegangan keluaran B+ over (OVP = over voltage protektor).
ü  Beberapa ic SMPS mempunyai fasilitas “auto re-start mode”. Artinya SMPS otomatis akan hidup kembali secara otomatis jika mati. Oleh karena itu beberpa ic SMPS akan hidup-mati sendiri jika terjadi protek. Hal ini dapat dilihat dari lampu led yang kedip-kedip atau tegangan keluaran yang goyang-goyang.
ü 

1.16  Kelebihan MOSFET dibanding transistor bipolar

Saat ini penggunaan MOSFET lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan transistor power untuk sirkit SMPS. 
Kelebihan MOSFET dibanding transistor adalah :
ü  Saat “on” mempunyai resistansi yang lebih kecil sehingga lebih sedikit menghasilkan panas.
ü  Membutuhkan sinyal driver yang kecil sehingga langsung dapat di-drive dari ic PWM kontroler.
ü  Kerugian switching lebih kecil sehingga panas yang ditimbulkan lebih kecil dan pemakaian daya listrik lebih efisien.
ü  Mampu bekerja pada frekwensi yang lebih tinggi.
ü 
1.17  SAFETY TIPS pada saat sedang memperbaiki sirkit SMPS

Demi keselamatan dan keamanan, maka hal-hal yang perlu diperhatikan sewaktu bekerja memperbaiki bagian SMPS adalah :
ü  Anda telah memahami cara kerja SMPS.
ü  Jangan telanjang kaki. Selalu pakai alas kaki yang kering.
ü  Lepas jam tangan atau asesoris lain seperti kalung dari bahan logam dari tubuh Anda.
ü  Gunakan penerangan yang cukup.
ü  Jika lagi lelah atau kantuk, tunda dulu pekerjaan. Kesalahan kecil mungkin bisa mencelakkan atau menyebabkan kerusakan lain yang lebih parah.
ü  Gunakan Part asli untuk mengganti part-part yang kritis seperti misalnya fuse, fuse resistor.
ü  Kalau mempunyai -  pasang sebuah tranfo isolasi pada masukan listrik jala-jala yang ke tempat kerja dengan daya 200~500W. Tranfo isolasi adalah tranfo AC yang mempunyai kumparan dengan perbandingan 1 : 1 artinya masuk 220V keluar juga 220v. Hal ini untuk mencegah terjadinya sengatan listrik ketubuh kita kalau kita pegang bagian primer (hot) SMPS atau saat memperbaiki SMPS hot chasis.
ü  Di-negara maju ada peraturan bahwa seorang tekisi tidak boleh bekerja sendirian. Minimal harus ada seseorang yang menemani bekerja yang dapat menolong jika terjadi kecelakaan.
ü 
2. Kerusakan-kerusakan SMPS

2.01  SMPS tidak kerja sama sekali atau tidak ada tegangan B+
ü  Periksa terlebih dahulu bagian sekunder B+ mungin ada yang short. Paling sering disebabkan transistor HOT rusak. Hal ini dapat menyebabkan SMPS tidak mau berosilasi atau protek. Pada model tertentu kadang disertai adanya suara dari bagain SMPS jika beban B+ short.
ü  Periksa mungkin power transistor atau power MOSFET short.
ü  Periksa semua elko-elko yang terdapat pada bagian primer maupun sekunder dengan ESR meter. Elko kering paling sering menimbulkan problem pada sirkit SMPS
ü  Periksa resistor start-up yang berfungsi untuk memicu agar osilator bekerja pada saat pesawat dihidupkan. Biasanya terdiri dari buah resistor yang mempunyai nilai ratusan kilo ohm dari tegangan 300v elko besar. Pada SMPS dengan menggunakan all transistor tegangan start-up berfungsi untuk memberikan tegangan bias pada transistor power. Sedang pada SMPS yang menggunakan IC driver digunakan untuk memberikan tegangan start-up Vcc. Setelah SMPS bekerja maka tegangan Vcc IC driver akan diambil alih dari tranfo switching melalui sebuah diode penyearah tegangan take over.
ü  Pada SMPS all transistor periksa semua transistor lainnya
ü  Pada SMPS dengan IC osilator driver mungin IC rusak setelah diperiksa tegangan start-up Vcc ada.
ü  Komponen pada sirkit komparator pada bagian sekunder ada yang rusak
ü  Photo coupler rusak. Kolektor-Emitor photo coupler kalau bocor dapat menyebabkan SMPS tidak mau berosilasi.
ü  Periksa solderan-solderan, terutama pada kaki-kaki tranfo switching yang ada kemungkinan retak.
ü 
2.02  Tips dan trick memperbaiki SMPS mati.

Menjumpai kerusakan SMPS maka hal yang selalu kami lakukan adalah prosedur seperti dibawah ini, karena menurut kami hal ini dapat mempercepat waktu pengerjaan.
ü  Memeriksa apakah transistor HOT short dengan ohm meter
ü  Memeriksa apakah power transistor atau  MOSFET short dengan ohm meter
ü  Memeriksa kemungkinan ada elko-elko kering pada bagaian primer maupun sekunder dengan ESR meter.
ü  Memeriksa secara visual dengan penerangan yang cukup solderan-solderan.
ü  Memasang lampu dop 100w/220v secara seri pada masukan listrik jala-jala untuk menghindari kerusakan transistor atau MOSFET power switching jika ada masalah. Lampu seri dapat dipasang pada kaki-kaki dudukan fuse dan melepas fuse untuk sementara. Jika tegangan keluaran sudah normal lampu boleh dilepas dan fuse dipasang kembali.
ü  Jika elko besar masih menyimpan muatan, maka kami pasang sementara sebuah resistor 47k/2w antara kaki-kakinya. Dengan demikian kita tidak perlu harus sering membuang muatan. Jangan membuang muatan dengan obeng karena akan menimbulkan stres pada elko dan dapat menyebabkan kerusakan. Membuang muatan dengan cara menempelkan solder ada resiko merusakan elemen solder. Ingat tegangan elko adalah sekitar 300v sedang tegangan kerja solder adalah 220v.
ü 
2.03  Power transistor langsung rusak lagi

Pada SMPS dengan all transistor ada kemungkinan power transistor langsung rusak lagi setelah diganti baru. Hal ini kemungkinan disebabkan karena loop umpan balik dari bagian sekunder ke bagian primer terputus atau kerusakan pada sirkit komparator. Yang paling sering terjadi disebabkan karena resistor yang bernilai 47k nilainya molor.


2.04  Indikator LED kedip-kedip tegangan B+ drops dan goyang-goyang.
Problem sering terjadi pada SMPS yang menggunakan ic yang sudah diperlengkapi dengan protektor. Tegangan goyang-goyang disebabkan karena SMPS mati protek-hidup kembali secara otomatis secara berulang  terus menerus. Kerusakan biasanya disebabkan karena :
ü  Elko tegangan Vcc IC osilator driver ada yang kering.
ü  Periksa diode pada sirkit tegangan take-over. Mungkin rusak atau solderan kendor.
ü  Beban pada bagian sekunder over karena ada kerusakan part misalnya flyback, def yoke, atau IC vertikal.
ü  Loop umpan balik ada masalah.
ü 
2.05 Tegangan keluaran B+ drops.
Tergangan B+ drops dapat disebabkan karena :
ü  Elko tegangan B+ kering
Kerusakan pada sirkit komparator, misalnya zener yang bocor atau resistor yang molor.
ü  Kerusakan photo-coupler.
ü  Ada sirkit SMPS tertentu dimana pada saat stand-by tegangan B+ memang dibuat rendah. Dan tegangan B+ akan normal jika power sudah di-on-kan. Jika tegangan tidak mau normal maka coba periksa sirkit kontrol on-off dari mikrokontrol ke sebuah diode yang dipasang pada photo-coupler.
ü  Solderan yang kurang kontak kadang juga menjadi penyebab masalah ini.
ü  Kerusakan elko besar yang sedikit kering kecuali dapat menyebabkan tegangan B+ drops kadang ditandai dengan timbulnya gangguan gambar yang berupa garis-garis horisontal ditengah layar disertai timbulnya gangguan suara yang berisik.
ü 
2.06  Pada saat britnes gambar bertambah terang  tegangan B+ drops

Pada pesawat China yang menggunakan SMPS all transistor kadang dijumpai problem :
ü  Jika britnes gambar berubah terang, raster menjadi kecil
ü  Jika tegangan screen dinaikkan, raster menjadi mengecil
ü  Kedua problem diatas dapat disebabkan karena tegangan B+ drops. Penyebabnya adalah “diode zener” yang umumnya bernilai 7.5v yang ada pada bagian primer rusak bocor. Diode ini sebenarnya berfungsi sebagai protektor, untuk melindungi kerusakan transistor power jika ada problem pada loop umpan balik.


2.07  Elko-elko pada bagian sekunder pada meletus pada SMPS China

Kami kadang menjumpai kerusakan beberapa elko pada bagian sekunder yang rusak meletus. Setelah elko-elko diganti, diperiksa semua tegangan normal-normal saja. Tetapi setelah diambil konsumen beberapa hari kemudian kerusakan serupa kembali terjadi. Elko-elko kami ganti lagi dan kami coba dirunning di kantor hingga seminggu lebih tidak ada masalah. Tetapi begitu dikembalikan ke konsumen, terjadi problem serupa lagi.

Menghadapai masalah seperti ini hingga saat ini kami belum dapat menemukan akar penyebabnya. Dan solusi yang kami terapkan adalah mengganti semua elko dengan tegangan yang lebih tinggi. Misalnya elko 35v kami ganti dengan 50v.


2.08  Saat stand-by timbul suara, saat hidup normal

Biasanya hal ini terjadi jika tegangan listrik jala-jala lebih dari 220v. Hal ini disebabkan beban SMPS yang terlalu minim. Solusinya pasang resistor tambahan dengan nilai 12k/2w antara B+ dan ground.


2.09  Tegangan keluaran rendah tidak mau naik.
Pada televisi yang mempunyai  sistim kerja tegangan rendah saat stand-by dan tegangan normal jika power "on", maka problem bukan disebabkan kerusakan pada bagian SMPS. 
ü  Disebabkan karena kerusakan pada sirkit kontrol on-off dari mikrokontrol ke sebuah diode dan transistor yang dipasang pada photocoupler. Lacak part-part pada sirkit tersebut.
ü  Untuk memastikan coba open dulu diode atau transistor. Tegangan apakah dapat berubah naik menjadi normal.
 sumber from marsono tv
Cara Aman Mengetes Power Supply (AC-MATIC)

Memperbaiki rangkaian/bagian ac-matic/smps peralatan electronic memang gampang2 susah. Dengan jurus reboisasi ala dinas kehutanan atau jurus tes komponen satu-persatu dengan njelimetnya. Setelah semua komponen terpasang dan masih kinclong2 tiba saatnya untuk mengetes/mencoba. Dag-dig-dug, jantung berdebar-debar, bisa nggak ya.... atau malah kebakaran....???
Itulah dulu (sekarang kadang juga masih kok). Biar aman dan nggak was-was, beberapa rekan menyarankan untuk menggunakan tegangan 110V. Cara ini oke juga, sudah mengurangi rasa was-was. Manjur untuk ac-matic tipe tertentu tetapi ada beberapa jenis skema SMPS ketika dicoba dengan 110V bisa beroperasi dengan baik, tapi ketika dicoba dengan 220V langsung kebakaraaaan!!!, wah-wah kalo begini terus bisa tekor nih...
Setelah tanya sana-sini dan baca-baca artikel tentang cara aman mengetes power supply ditemukan cara yang lebih aman, yaitu dengan jurus lampu pijar 220V/60watt. Alhamdulillah cara ini yang paling amaaan hingga sekarang. Cara ini saya dapatkan dari hasil membaca buku ARRL.
Caranya pasang lampu pijar secara seri terhadap rangkaian yang mau dites. skema jelasnya begini:

---------(LAMPU)----------
AC IN 220 SMPS yang dites
----------------------------

Sebelum mencoba smps, beban pada smps dilepas dulu (kalo pada TV, beban untuk B+ ), Ketika dicolokkan ke listrik, amati nyala lampu:
-- Pertama-tama lampu akan berpijar terang +- 1 deti'an (karena mengisi elko) kemudian menyala redup (atau bahkan tidak menyala sama sekali). jika smps yang dites beroperasi dengan baik --> tegangan sekunder muncul (lanjutkan dengan mengetes semua tegangan keluaran). Biarkan menyala kira2 1-5 menit, jika tidak ada perubahan terhadap nyala lampu berarti smps dirasa sudah siap dioperasikan tanpa lampu. Jika tidak ada tegangan keluaran sama sekali, berarti ada trobel dibagian startup (tv sharp R560K, tv digitec jadul R120K-an).
-- Jika lampu menyala terang terus (kaya slogannya philips), berarti ada yang konslet di rangkaian smps atau komponen aktif smps dalam keadaan ON/switched terus >> tidak ada output. cek lagi komponen/rangkaiannya. Jangan lama2 mengetesnya tujuannya agar tidak sempat merusakkan komponen aktif smps (TR, FET dll), kalo kelamaan, resiko ditanggung penumpang.

Ooo iya... ketika masih ada lampu yang terpasang, smps JANGAN diberi beban, nyala lampu akan menyesuaikan jumlah beban, semakin terang semakin besar bebannya. Karena lampu bersifat resistif, nilainya meningkat sesuai dengan bebannya, dapat menyebabkan tegangan yang masuk ke smps menjadi turun hingga dibawah 125V dan kejadian ini bisa fatal jika smps yang dicoba tidak mampu bekerja pada tegangan input sebesar itu!!!

Untuk mengatasi problem tv yang ketika dinyalakan pertama kali, spedometer listrik langsung njegleg dengan cara dipasangi R 20 watt dengan nilai sekitar 20 ohm-an dan disambung secara seri pada input listriknya (pada TV goldstar R39 ohm/7W). Ternyata cara ini merupakan pengembangan dari metode lampu tersebut.

Silahkan mencoba dan selamat tidak menutup telinga dan dag, dig dug lagi.... he he
Nggak usah dag dig dug,pede ajja lagi,pastikan dulu semua komponen sudah oke semua,jangan lupa ketika mau coba test,baca basmalah dulu,Bismillahirohmanirohim MAKK BUUUZZZZZ........kobong kabeh....hahahahahaha........
Siip Kang ulasane!
Nek mledos kan enak gak usah beli mercon....sekalian sport jantung biar gak ngantuk, ya gitu kalo praktek tanpa teori.kalo aku sih mending teori gak pakai praktek dijamin gak mbledos....woalah malih ngantuk....
kula nuwun,nunut ngiyub mbah,tepangaken kulo pendatang baru aneng dunia elektro,dumateng mbah mbah dukun elektro kawulo nyuwun idi pangestunipun,
mbah,bade nyuwun pirso,pripun carane ngetes plebek(fly back) mbah?nuwun,
    • wahhh kang Zaenal Blognya makin greees dan jooos komplit dan mengasikkan untuk dibaca makasih kang untuk semua ilmunya yg sangat bermanfaat buat sy dan teman teman. tambah terus kang jangan pernah bosan trimakasih RANO KARNO. (2)
·  Sebelum menservis, sebaiknya cukupi/sediakan peralatan servis yang dibutuhkan dan siapkan peralatan-peralatan standar keamanan servis (jika ada).
·  Jika Anda seorang muslim, jangan lupa baca Basmallah sebelum mengerjakan sesuatu, termasuk servis.
·  Setelah berhasil membuka perangkat, sebaiknya bersihkan dulu mesin dari debu/kotoran, kalo perlu bersihkan juga bagian jalur PCB (bawah) dengan thinner. Jika mesin TV kelihatan bersih, proses servis lebih mengasikkan dan tidak menjemukan.
·  Amati semua komponen yang secara fisik ditemukan kejanggalan misalnya berkarat, gosong, retak, menggembung, dll. Jika ditemukan, segera dicek atau diganti.
·  Solder ulang pada bagian-bagian/solderan yang disinyalir retak dan akan retak. Misalnya resistor-resistor besar (1 atau 2 watt), kaki-kaki IC dan STR dll). Manfaat lain dari solder ulang, secara tidak langsung penyervis akan belajar memahami blok-blok dari mesin TV yang sedang diservis.
·  Khusus TV/perangkat yang sudah dilengkapi dengan Servis Menu, sebaiknya cek dulu data servis menunya sebelum menyolder, hampir sebagian besar kerusakan TV jenis ini disebabkan oleh berubahnya data settingan. Lumayan jika cuma mengubah data servis saja.
·  Hanya menservis per-blok, jangan berfikir kemana-mana. Usahakan tidak berfikir yang sulit-sulit terlebih dahulu, kadang kerusakan hanya bersifat 'sederhana'.
·  Jika menemukan kesulitan, lakukan tindakan pengumpulan data, misalnya bertanya ke teman, membaca datasheet, skema dll.
·  Jika ditemukan komponen/blok yang rusak, cari penyebabnya terlebih dahulu sebelum penggantian. Misalnya transistor horisontal rusak/mati mungkin disebabkan oleh TFB yang konslet.
·  Setelah TV yang diservis bisa menyala normal, biarkan menyala selama 5 s/d 15 menit, selama menyala amati jika ada gejala tidak normal, misalnya suara yang 'aneh', setelah dimatikan, sentuh/cek komponen-komponen aktif dari panas berlebih (overheat), jika dirasa sudah beres, bisa ditutup kembali dan menunggu bayaran.
Favorite's Pinouts (08-10-2009)
TA8690AN
H-VCC=25, FBP/AFC=21, H-OUT=22, V-OUT=30, IF-VCC=44, VCD-VCC=13, SIF-O=53, VIF-O=43, SYNC-I=36, AFT-O=48, APC=11
TDA8360/1/2
VCC-8V=10, H-VCC=36, H-OUT=37, V-IDENT=4, VIF-O=7, AV-SW=16, AFC-O=44, AUDIO-O=50, V-OUT=43, V-RAMP=42
TDA935x/8x
VCCD-3V3=56, VCC-8V=39, VCCA-3V3=54, VCC-8V=14, RESET=60, ABL=49, AUD-O=44, VID-O=42, EHT=36, H-OUT=33, V-DRV-A=21, V-DRV-B=22, I-REF=25, V-SC=26, AFC/SC=34
NN5198K
SDA=51, SCL=2, SC/AFC/FBP=52, VDD-5V=48, H-VCC=41, V-OUT=46, VCC-5V=35, VCC-9V=33, VCC-9V=9, H-OUT=42, H-SYN=39, VID-O=36, AUD-O=30, VID-I=24, ABL=4
TDA8841/2
FB-I=26, VCC-8V=37, VID-O=38, VID1-I=13, VID0-I=11, VCC-8V=12, H-OUT=40, SC/AFC/FBP=41, V-DRA=47, V-DRB=46, V-SC=51, V-IREF=52, AUD-O=55
TB123xCN
VCC-9V=52, VCC-YC5V=46, AUD-O=2, VCC-IF9V=3, AFT-O=4, APC=10, VCC-RGB9V=17, FBP/SC/AFC=30, VCC-DIG5V=36, H-OUT=32, ABCL/ABL=21, V-RAMP=22, V-OUT=24, SCL=26, SDA=27, H-VCC9V=28
LA76931
VIF-O=61, AFT=59, SIF-O=1, AUD-O=6, ABL=10, VCC-5V=55, SC/AFC/FBP=44, VCC-RGB9V=11, V-RAMP=16, V-OUT=17, H-VCC=19, H-OUT=21, RST=40
TMPA882x
SIF-O=31, VIF-O=30, VCC-IF9V=29, VCC-IF5V=36, ABL=27, VCC-D3V3=25, VCC-YC9V=44, H-VCC9V=17, V-OUT=16, H-OUT=13, SC/AFC/FBP=12, VCC-RGB9V=49, SDA=57, SCL=58, VCC-A5V=55, VCC-D5V=9, RST=5
M52770ASP
AFT-O=2, VCC-5V=11, SCL=13, H-OUT=15, SDA=17, V-OUT=26, VCC-START9V=27, VCC-5V=31, X-RAY0V=36, VCC-H9V=53, VID-O=54

mujib BLOG

REGULATOR /POWER SUPPLY SERBA GUNA

REGULATOR /POWER SUPPLY SERBA gunaa


Ada sebuah kit /modul siap pakai:REGULATOR GACUN buatan gz.jiachun china yang amat sangat serba guna dan sangat mudah di aplikasikan untuk regulator apa saja.
Kenapa saya katakan demikian? karena pada kondisi penerapan tertentu kit ini hanya cukup memasang dua buah kabel saja.Sebuah terobosan yang sangat berguna (terimakasih GACUN).
Regulator apapun dan bagaimana pun selama trafo converternya masih bagus,kit ini dapat bekerja dengan baik untuk menggantikan rangkaian regulator aslinya.Buang habis semua jalur rangkaian regulator asli (tentunya yg sudah rusak dan tidak dapat di repair lagi) bagian primer,dan kita hanya perlu dua titik pasang.Yaitu pin trafo yang terhubung dengan tegangan input ( VCC) biasanya 300v,dan pin yang menuju ke collector Transistor /IC regulator.
Cara pemasangan nya adalah amat sangat mudah .Regulator gacun hanya mempunyai tiga (3) jalur kabel; merah adalah VCC input yang nantinya dipasang pada titik trafo yg menuju collector TR/IC regulator.kabel hitam adalah ground ( negative) dan kabel biru adalah untuk feedback ( pendeteksi perubahan tegangan output, kabel ini bisa dipasang atau pun boleh dibiarkan saja ( itu hebatnya).
Biarkan /jangan di copot capasitor dan resistor yg berada dijalur VCC ke collector ( kapasitor/resistor osilasi trafo biasanya mulai 680pF-2n2F/2KV).
Pasang kabel hitam ke ground. pasang kabel merah ke kaki trafo collector (kabel merah ini di asumsikan sebagai pengganti collector TR/IC ),dan kabel biru ke jalur optocoupler ,jika ada.
Putar trimpot gacun pada posisi minimum ke kiri habis ( CCW ).hidupkan power supply.dan atur tegangan output regulator sebagaimana mestinya. TV biasanya 115V untuk B+ nya.5V untuk
regulator DVD dll.
Amat mudah mengaplikasikannya ,coba saja baik untuk TV14-29″ , VCD/DVD atau monitor.karena modul ini sudah terbungkus sangat rapih dan terlindungi oleh casing nya yang cukup mungil.

Regulator tr fet 7n65c jebol terus?

Maksudnya itu transistor power supply ?
Kalau ya, bisa disebabkan karena :
Transistor pengganti, palsu. atau
Ada komponen lain di rangkaian itu yang rusak.
Untuk mengetahuinya, secara sistimatis, lepaskan dahulu beban berat power supply, yaitu jalur power supply ke rangkaian power horizontal dan rangkaian power vertikal.
Kalau sukar diketahui yang mana, sedot saja Collector transistor power horizontal atau lepaskan saja transistornya dan jalur Vcc IC power vertikal atau lepaskan saja IC nya.
Periksa apakah resistor dari Emitter transistor masih asli dan belum pernah diganti dengan nilai yang lebih KECIL, karena kalau pernah diganti dengan yang lebih kecil, maka proteksi terhadap transistor power sudah tidak ada dan akan jebol terus. Kembalikan ke nilai semula

Nah sekarang, coba lagi.
Kalau masih bermasalah, jebol juga, coba ganti transistornya dengan transistor yang dibeli di toko lain dengan nomer lot yang berbeda.
Kalau kita perhatikan, setiap kita melihat transistor power, maka padanya ada tipenya misalnya 7N65C dan di bawahnya ada informasi lagi berupa angka atau huruf atau kombinasinya.
Itu adalah informasi lotnya atau tanggal pembuatannya. Nah cari di toko lain dan beli yang nomer, angka atau kombinasinya berbeda.
Yang palsu biasanya mempunyai no lot yang sama karena menggunakan sistim sablon.

Sekarang coba dengan menggunakan transistor yang lotnya berlainan.
Kalau masih juga, ganti IC Opto Couplernya.
Kalau sekarang menjadi OK, namun posisinya di Standby, maka akan ditunjukkan dengan lampu indikatornya menyala warna lain atau berkedip dan sebagainya.

Nah matikan TV dan sekarang pasang kembali transistor power horizontalnya, hidupkan, seharusnya TV sudah hidup, namun hanya ada garis horizontal terang saja.
Matikan TV dan pasang kembali IC power vertikalnya, hidupkan, maka seharusnya sekarang TV sudah normal kembali.

Untuk mencegah transistor jebol terus, khususnya buat teknisi, buat rangkaian sederhana berupa kabel dipasang di stop kontak dan steker, kemudian salah satu kabel, diputus dan dipasang lampu pijar 100Watt, tambahkan juga sakelar yang menghubung singkat lampu.
Untuk menggunakannya, pertama sakelar paralel lampu dibuka dan steker dipasang ke stop kontak rumah dan steker TV dipasang di stop kontak yang baru dibuat.
Hidupkan TV.
Kalau ada hubung singkat, maka lampu akan menyala sangat terang dan itu berarti masih ada beban berat di rangkaian dan harus diperiksa lagi.
Kalau lampu terang kemudian redup, nah itu berarti rangkaian power sudah bekerja dan sakelar bisa dikontakkan dan TV terhubung langsung ke sumber listrik.
Bisa juga ditambahkan MCB 1A, 2A, 4A, 6A yang dipasang secara seri untuk mencegah MCB rumah turun saat kita mencoba-coba memperbaiki peralatan elektronik.
Pengalaman
Penilaian Penanya:
Komentar Penanya:
Thank mas masukannya ... saya coba dulu ...
tv nya polytron ... semua sudah saya cek dan saya ganti yang rusaknya, tr 7n65c, DZ 13 dan DZ 2,7. R 33 ohm. PC dan Tl 431, Tr 1015, 1815, 945, tapi pada waktu mengidupkannya, tr 7n65c langsung jebol lagi .... RIBET mas ... kira-kira apanya lagi mas ...


4 komentar: